Rabu dalam Pekan Biasa IV, 29 Januari 2014

2Sam 7: 4-17  +  Mzm 89  +  Mrk 4: 10-20

 

 

Lectio :

Saat itu ketika mereka sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun." Lalu Ia berkata kepada mereka: "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat."

 

 

Meditatio :

Para murid mempertanyakan apa arti perumpamaan tentang benih-benih yang ditabur di tanah yang berbeda-beda.  Atas permintaan mereka Yesus menjawab: ‘tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?’.  Sepertinya agak jengkel juga Yesus terhadap kelambanan mereka, sebab perumpamaan segampang itu tidak dimengertinya juga. Bersyukurlah  kalian, sebab ‘kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun’. Apakah Tuhan Yesus tidak menghendaki keselamatan bagi seluruh umatNya? Penyataan Yesus yang mengutip kitab Perjanjian Lama sepertinya hanya hendak menegaskan betapa istimewanya para murid dan bangsa yang terpilih di hadapan  sang Empunya kehidupan. Dia menciptakan segala-galanya, tetapi Dia memilih umat manusia sebagai ciptaan yang paling dikasihiNya.

‘Penabur itu menaburkan firman’,  Allah menyatakan kehendak dan kemauanNya, yang disampaikan melalui sabdaNya, sebab dengan mendengar orang dapat mengerti dan mendalaminya. Pertama, ‘orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka’. Iblis mampu menghapus firman dari mereka, karena sabda yang mereka dengar dari telinga sebelah kiri dan keluar dari sebelah kanan, begitu sebaliknya. Mereka mengundang sabda itu datang, tetapi tidak menyiapkan tempat baginya.

Kedua, ‘benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad’. Mereka mendengarkan sabda tetapi tidak mau merenungkan dan mencoba menghayatinya. Mereka senang mendengarkan sabda Tuhan, tetapi sekedar penghibur jiwa. Sabda Tuhan diterima tak ubahnya seperti obat penahan nyeri, dan bukannya sebagai obat yang merangsang metobolisme untuk hidup lebih menggairahkan. Bibir mereka saja yang bersorak-sorai, tetapi hatinya diam seribu bahasa.

Ketiga, ‘benih yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah’. Sabda Tuhan sekedar pemuas jiwa, ketika seseorang ditantang untuk menghayati sabda itu, yang memang menantang seseorang untuk berani menyangkal diri, berpantang dan memanggul salib, dan menaruh perhatian hanya kepada Dia sang Empunya kehidupan, dia mulai mundur. Bukankah Tuhan itu Mahakuasa dan penuh kasih, mengapa kita harus memanggul salib kehidupan ini? Demikian juga tak jarang, kemurahan hatiNya sering mengecewakan diri, sebab mereka yang masuk kerja jam tiga sore mendapatkan upah yang sama dengan kita yang masuk mulai pagi hari. Dunia sepertinya lebih menarik hati.

‘Akhirnya’, keempat,  ‘benih yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat’.  Sabda yang didengarkan seseorang sungguh-sungguh dinikmati dan dirasakan. Sabda menjadi batu dasar/wadas dalam menghadapi banjir dan topan kehidupan. Aku yakin: berdiri di batu dasar, aku siap menghadapi gelombang kehidupan. ‘Barangsiapa meneliti dan menghayati sabda Tuhan, yakni hukum yang memerdekakan orang, dan bertekun di dalamnya, dan bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya’ (Yak 1: 25).

Menjadi pelaksana-pelaksana sabda Tuhan, yakni mereka yang mau melakukan kehendakNya, sungguh-sungguh mendatangkan berkat dan rahmatNya. Sebab memang Dia tidak membutuhkan apa-apa dari kita umatNya. Segala kemauan baik manusia tidak akan memuaskan hati Allah, malahan kalau kita paksakan, semuanya akan mematikan segala karyaNya yang mulia. Kemauan baik Daud untuk mendirikan Tuhan dari kayu aras (2Sam 7: 4-17) tidak sesuai dengan Allah yang selalu mengembara bersama umatNya. ‘Aku tidak pernah diam dalam rumah sejak Aku menuntun orang Israel dari Mesir sampai hari ini, tetapi Aku selalu mengembara dalam kemah sebagai kediaman’. Bukankah hidup ini juga sebuah peziarahan, di mana kemah kita di bumi ini kelak juga akan dibongkar, sebab ‘Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia?’ (2Kor 5: 1). Kemegahan gereja kiranya boleh dimengerti juga ketakutan umat Allah yang sedang berziarah ini untuk melepaskan kemahnya di dunia untuk tinggal dalam kemahNya yang kudus. Kemapanan hidup kiranya tidak menghilangkan panggilan Gereja yang sedang berziarah.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, curahkanlah Roh KudusMu setiap kali kami hendak membaca sabdaMu, agar kami diberi hati dan budi yang terbuka untuk mampu menerima dan menikmati kebenaran yang sejati. Amin




Contemplatio:

 

'Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.'









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening