Rabu sesudah Penampakan Tuhan, 8 Januari 2014

1Yoh 4: 11-18  +  Mzm 72  +  Mrk 6: 45-52

 

 

Lectio :

Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.

 

 

Meditatio :

Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Yesus berdoa dan berdoa di tengah-tengah kesibukanNya dalam melayani umatNya. Berdoa menyempurnakan karya pelayanan seseorang; minimal seseorang dapat menarik napas panjang dan berbicara dengan sang Empunya kehidupan ini. Namun mengapa Yesus tidak mengajak para muridNya berdoa bersama setelah berkarya? Apakah sengaja Yesus membiarkan mereka agar mereka sendiri yang berinisitif untuk berani berdoa? Apakah Yesus begitu mengandaikan bahwa mereka seharusnya sudah mengerti bagaimana harus berdoa? Mereka para murid ternyata memang tidak bisa berdoa, maka mereka meminta Yesus mengajarinya (Luk 11: 1).

Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.  Sebenarnya mereka belum terlalu jauh dari pantai, karena masih terpantau dari pantai. Yesus siap membantu mereka. Pukul tiga pun Dia berangkat. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Kehadiran Tuhan mengagetkan dan  menakutkan para murid, karena memang kehadiranNya di luar kemampuan nalar umatNya. Dia hadir dalam setiap peristiwa hidup, bahkan dalam aneka peristiwa yang di luar pengetahuan umatNya. Kekurang tahuan, dan tentunya ketidakpercayaan seseorang akan kemahakuasaan sang Empunya kehidupan, menjadikan diri gelisah dan was-was akan kehadiranNya, berlawanan dengan mereka yang memang merindukan kehadiranNya. Kiranya pengalaman Maria Magdala dan para penjaga kubur yang kita renungkan kemarin mengingatkan akan semua hal ini.

'Tenanglah! Aku ini, jangan takut!',  tegas Yesus kepada mereka semua; dan mereka pun berdiam, dan membiarkan Yesus mendekati mereka.  Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Ada bersama Yesus, perahu mereka tenang. Ada bersama Yesus, hidup akan terasa nyaman dan membahagiakan. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil. Kegelisahan para murid seharusnya tidak terjadi, bila memang mereka dapat semakin memahami segala yang indah dan baik yang dapat dikerjakan Tuhan Yesus. Segala yang indah dan baik dilakukan oleh Yesus agar semua orang semakin berani mengakui keberadaan Allah dalam setiap  hidup dan mengandalkan kekuatan daripadaNya. Mukjizat pergandaan roti memang seharusnya membuat para murid mengakui bahwa Yesus sang Guru mampu membuat segala-gala baik adanya.

Para murid bangga terhadap Yesus yang mampu mengadakan mukjizat, tetapi mereka tidak menjadikan kemahakuasaan dan kasih Yesus menjadi jaminan hidup mereka. 'Dalam kasih tidak ada ketakutan: 'kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih' (1Yoh 4: 18). Kiranya penegasan Yohanes menjadi peneguhan bagi kita bersama untuk sungguh-sungguh berani menikmati segala yang baik dan indah, terlebih kasih Yesus sendiri, dan menjadikannya sebagai jaminan hidup, sehingga hidup terasa semakin indah dan membahagiakan.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus,  kuatkanlah kami agar tetap setia dan datang kepadaMu dalam menghadapi 'angin sakal' kehidupan kami, supaya tetap tenang dan tidak takut,  karena Engkaulah pemberi jaminan ketenangan dan kebahagiaan hidup kami.   Amin  




Contemplatio:

'Tenanglah! Aku ini, jangan takut!'.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening