Sabtu dalam Masa Natal, 4 Januari 2014

1Yoh 3: 7-10  +  Mzm 98  +  Yoh 1: 35-42

 

 


Lectio :

Suatu hari Yohanes berdiri di pinggir sungai dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!" Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus.

Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Guru, di manakah Engkau tinggal?" Ia berkata kepada mereka: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat.

Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias." Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas."

 

 

Meditatio :

'Lihatlah Anak domba Allah!',  seru Yohanes kepada kedua muridnya ketika Yesus lewat di hadapan mereka. Inilah penunjukkan Yohanes untuk kedua kalinya kepada para muridnya tentang Siapakah Dia yang datang sesudah dirinya itu. Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Yohanes Pembaptis sama sekali tidak gelisah dan marah, ketika kedua muridnya meninggalkan dirinya dan mengikuti sang Anak Domba. Itu hak mereka berdua untuk berbuat apa saja, dan juga Yohanes benar-benar menyadari bahwa dirinya hanyalah suara yang berseru-seru di padang gurun.  Yohanes menampakkan kerendahan hatinya dan tidak sombong. Yohanes mendukung setiap orang untuk selalu berani memilih yang terbaik bagi hidupnya. Yohanes tidak mengekang kedua muridnya dalam mengambil sebuah keputusan.

Seorang bapa atau ibu harus sungguh-sungguh berani melepas, dan bahkan harus memaksa lepas anak mama yang memang sudah dewasa, bahkan sudah mengikatkan diri dalam suatu perkawinan, untuk hidup mandiri. Merestui sebuah perkawinan berarti membiarkan sang buah hati untuk mandiri dalam segala kelebihan dan keterbatasan yang dimilikinya.

'Apakah yang kamu cari?', kata Yesus kepada mereka berdua, ketika dilihatNya mereka terus mengikutiNya. 'Guru, di manakah Engkau tinggal?',  sahut mereka. Yesus berkata kepada mereka: 'marilah dan kamu akan melihatnya'.  Yesus menyatakan seperti itu, agar mereka berani memberi keputusan; keputusan untuk terus mengikutiNya atau tidak, dengan melihat kenyataan hidup sang Anak Allah yang tidak tinggal dalam istana raja.  Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Sebuah kesaksian yang hebat: sejak kapan Yohanes, sang penulis Injil ini mulai mengikuti sang Guru. Ia mengikuti Yesus memang dalam usia yang sudah matang. Dia sudah melewati perjalanan pagi dan siang hari, dan dia pun mengikuti sang Guru tidak menjelang malam, waktu untuk istirahat.

Salah seorang dari kedua murid, yang mengikuti sang Guru adalah Andreas. Ketika bertemu dengan Simon, saudaranya, ia berkata kepadanya: 'kami telah menemukan Mesias'. Andreas, tidak hanya memberitahukan,  juga membawanya kepada Yesus. Dia tidak cukup hanya berkata-kata, tetapi juga melaksanakan. Andreas tidak hanya menyampaikan Siapakah Dia yang telah ditemuinya, tetapi dia juga harus membawa  Simon 'bartimeus' yang harus dituntunnya untuk memandang dan mengenal sang Guru.   

Yesus memandang Simon dan berkata: 'engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas'. Yesus Tuhan yang mengenal satu per satu seluruh ciptaanNya, mengenal benar siapakah Simon yang datang kepadaNya. Dialah Kefas atau Petrus, sebuah wadas kokoh yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan tertentu. Dengan penyebutan Simon secara khusus sebagai Kefas sepertinya Yesus sudah mempunyai rencana tertentu yang hendak melibatkan dia dalam suatu perkara.

Yohanes telah menunjukkan sang Kebenaran kepada kita, dan seperti kita renungkan kemarin kita mendapatkan panggilan yang luhur dan mulia, yakni sebagai anak-anak Bapa di surga. Maka baiklah kita melakukan segala yang baik dan benar, dan menjauhi segala yang jahat, guna menikmati kehadiran sang Kebenaran itu dalam hidup kita; sekaligus mengasihi sesama (bdk 1Yoh 3: 10), sebagai tanda bahwa memang kita mengenal Allah yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Kita temui kehadiranNya dalam diri sesama kita.





Oratio :

Ya Yesus Kristus, jadikan kami pembawa terang melalui sikap hidup dan semangat mengasihi terhadap sesama, agar semakin banyak lagi orang mengenal Engkau.  Amin






Contemplatio :

'Andreas membawa Simon kepada Yesus'.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening