Sabtu dalam Pekan Biasa IV, 1 Februari 2014

2Sam 12: 1-17  +  Mzm 51  +  Mrk 4: 35-41

 

 

Lectio :

Suatu hari, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang." Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?"

 

 

Meditatio :

Marilah kita bertolak ke seberang’, ajak Yesus kepada para muridNya. Banyak orang yang hendak mendengarkan Dia, ditinggal begitu saja. Mengapa Yesus pergi ke seberang meninggalkan banyak orang? Ada sesuatu yang mendesak? Jikalau ditanyakan, apakah Yesus akan menjawab ‘marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang?’ (Mrk 1: 38). Akhirnya Yesus bersama para murid naik ke perahu, tetapi mereka pun bisa tidak tinggal diam, sebab dengan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.

Di tengah danau, mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Suasana kacau tentunya, karena kekuatiran dan kegelisahan menyelimuti mereka. Namun anehnya, pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Mengapa Yesus tertidur begitu pulasnya, sehingga tidak merasakan apa-apa? Apakah Yesus tertidur sungguh, atau hanya pura-pura? Mungkinkah Yesus berdiam diri dalam keadaan genting semacam itu?

Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: 'Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?'. Mereka berteriak karena memang ketakutan. Yesus pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: 'Diam! Tenanglah!'. Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Yesus berkuasa atas alam semesta.

'Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?'. Bagaimana memang mereka tidak takut dengan angin badai yang hendak menenggelamkan. Namun benar juga kalau mereka tidak usah takut, sebab mungkinkah mereka binasa di hadapan Yesus? Mungkinkah mereka binasa bersama Yesus? Ketakutan mereka memang menunjukkan bahwa mereka tidak percaya kepada Dia sang Empunya kehidupan; mungkin mereka percaya tetapi tidak menaruh harapan hidupnya kepada sang Guru. Kepercayaan akan Tuhan yang tidak diiringi sikap penyerahan diri kepadaNya akan membuat seseorang tinggi hati dan sombong dalam kemapanan hidupnya. Dia akan bertindak semena-mena hanya demi kepuasan diri, sebagaimana dilakukan oleh Daud. Hanya pertobatan (2Sam 12: 1-17) yang membuat orang kembali dalam keselamatan di dalam Tuhan. Hanya dalam pertobatan ada keselamatan hidup.

'Siapakah gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?', seru mereka yang sepertinya semakin membuat mereka mengenal siapakah Dia yang ada di depan mereka.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, kamipun sering ketakutan dan merasa Engkau tinggalkan ketika kami mengalami badai dalam kehidupan kami. Mampukan kami untuk selalu mengundang Engkau dalam kehidupan kami dan berserah diri kepadaMu, karena Engkaulah sang Empunya kehidupan yang tidak akan membiarkan kami binasa di hadapanMu. 

Kami adalah milikMu, ya Yesus. Amin




Contemplatio:

'Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?'

 

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening