Selasa dalam Pekan Biasa IV, 28 Januari 2014

2Sam 6: 12-19  +  Mzm 24  +  Mrk 3: 31-35

 

 

Lectio :

Suatu hari datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: "Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau." Jawab Yesus kepada mereka: "Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?" Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!  Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

 

 

Meditatio :

'Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau', itulah seru orang-orang yang setia mendengarkan pengajaran. Mendengarkan seruan itu, Yesus bukannya menyuruh mereka mengajak masuk orangtua dan saudara-saudaraNya, malah berkata: 'siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?'.

Yesus mengesampingkan keluargaNya, mentang-mentang Dia mendapatkan banyak tamu, karena memang namaNya mulia meroket? Bukan! Yesus tidak merendahkan ibu dan sanak saudaraNya. Yesus tidak menyangkal keberadaan mereka, karena memang mereka adalah orang-orang yang setia bersamaNya. Namun lebih dari itu, persaudaraan yang sesungguhnya tidaklah dibatasi oleh ikatan insani, yang memang sering malahan membelenggu hak azasi setiap orang; persaudaraan sejati adalah persaudaraan yang selalu bersumber dalam kasih Tuhan Sendiri, karena memang semua orang adalah ciptaan yang sesuai dengan gambarNya. Kita adalah satu ciptaanNya. Kita adalah sama. Kita adalah saudara.

Penyataan Yesus: 'barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku' lebih lagi menegaskan bahwa sebenarnya setiap orang adalah saudara bagi sesamanya. Sebab bukankah Allah kita itu adalah Allah bagi orang hidup atau pun mati; bukankah kalau setiap orang hidup itu bukan bagi dirinya sendiri melainkan bagi Tuhan, bahkan mereka yang telah mati demikian juga? Kita semua telah beroleh rahmat dan pewaris keselamatan berkat karya penebusan Kristus. Rahmat itu semakin terasa nyata berkat kematian dan kebangkitanNya yang memberi kita kehidupan baru sebagai saudara dan saudariNya dalam satu Bapa.

Tak dapat diragukan bila Maria adalah seorang yang taat melakukan kehendak Allah, sejak dia menerima kabar gembira. Maria sungguh-sungguh seorang ibu bagi Yesus, karena setia dan taat pada kehendak Bapa, yang menerima kehadiranNya secara utuh. Demikian juga dengan para murid yang selalu bersatu pada bersama keluarga Nazaret; mereka bersatu hati dalam mendengarkan Dia dan bergaul dalam kesehariannya bersamaNya.

Kisah raja Daud yang selalu berbagi dengan umat Israel menunjuk juga pada pengalaman sebagai saudara dengan sesama (2Sam 6); karena memang seseorang yang menyatakan diri sebagai saudara selalu bersikap ada bersamamu.

 

 



Oratio :

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar semakin menyadari dan menghayati arti sebuah relasi bersama Engkau, terutama dalam berelasi dengan sesama yang membutuhkan kami, sehingga kami benar-benar menjadi satu keluarga di dalam Engkau.  

Santo Tomas Aquino doakanlah kami.  Amin





Contemplatio:

 

 'Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku'.











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening