Senin dalam Pekan Biasa II, 20 Januari 2014


1Sam 15: 16-23  +  Mzm 50  +  Mrk 2: 18-22

 

 

Lectio :

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: "Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula."

 

 

Meditatio :

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: 'mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?'. Itulah persoalan yang dikemukan oleh mereka semua. Mengapa mereka bertanya seperti itu? Apakah mereka sering melihat para murid Yesus itu tidak berpuasa? Apakah waktu berpuasa mereka sudah menjadi kebiasaan umum, ataukah memang semuanya itu sudah menjadi aturan umum, bahwa mereka saat itu harus berpuasa?

'Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa', tegas Yesus. Bagaimana seseorang harus berpuasa, bila memang dia secara sengaja mendampingi sang mempelai laki-laki dalam suatu pesta perkawinan. Demikian juga, seseorang tidak harus berpantang dan berpuasa, bila memang dia selalu bersama dengan sang Empunya kehidupan, karena memang ada selalu berada dalam pantauan kasih sang Penyelamat dunia, seseorang akan dituntun dan dibimbing olehNya. Sebab berpuasa dan berpantang bukanlah soal makan dan minum, tetapi soal pada pembiaran diri untuk dikuasai dan dibimbing oleh sang Kehidupan itu sendiri. Orang yang selalu mengamini segala kehendak Tuhan dan melaksanakannya adalah orang yang setia dalam berpantang dan berpuasa.

'Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa', tegas Yesus. Kapan itu? Ketika Yesus masuk dalam golgota kehidupan umat manusia untuk mencapai puncak karya penyelamatan. Sewaktu mereka tidak bersama Yesus, pada saat itulah seseorang harus berpuasa; karena pada saat itulah seseorang harus tetap mampu mengarahkan perhatian dan dirinya kepada Dia Yesus Tuhan. Berpuasa adalah uasaha pengendalian diri seseorang untuk tetap setia pada jalan Tuhan, yang mengarahkan kepada keselamatan, dan tetap tidak goyah dari segala tarikan dunia yang menggiurkan dan melemahkan jiwa.

'Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula'. Segala-galanya ada waktunya, sebagaimana dikatakan oleh kitab Pengkotbah. Demikianlah seseorang yang hedak berpuasa, kiranya mengambil waktu dan kesempatan yang tepat bagi dirinya. Tak dapat disangkal memang, Gereja mengadakan pekan puasa di saat masa Prapaskah sebagai komunitas gerejani yang bersama-sama menanggapi masa yang penuh rahmat guna merenungkan karya penebusan Kristus, tetapi tidak menutup kemungkinan bagi setiap orang untuk mengambil kesempatan pribadi  berpantang dan berpuasa guna semakin mampu mengarahkan diri kepadaNya, sebab hanya hati yang terfokus padanya akan membuat jiwa dan raga itu tenang dan damai dalam jalan hidupnya.

Persembahan hati kiranya yang lebih mendapatkan perhatian dari Allah dan bukannya kurban bakar dan sembelihan, sebagaimana dilakukan Saul bersama pengikutnya (1Sam 15); terlebih bila seseorang itu malau mendengarkan sabda dan kehendakNya yang membantu setiap orang untuk melakukan segala yang mendatangkan keselamatan dan berkatNya.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, kuduskanlah jiwa dan raga kami, amin.





Contemplatio:

'Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa'.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening