Jumat dalam Pekan Biasa IV, 7 Februari 2014

Sir 47: 2-11  +  Mzm 18  +  Mrk 6: 14-29

 

 

Lectio :

Ketika Raja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal dan orang mengatakan: "Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia." Yang lain mengatakan: "Dia itu Elia!" Yang lain lagi mengatakan: "Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu." Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata: "Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi." Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. Karena Yohanes pernah menegor Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!" Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: "Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!", lalu bersumpah kepadanya: "Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!" Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: "Apa yang harus kuminta?" Jawabnya: "Kepala Yohanes Pembaptis!" Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!" Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.

 

 

Meditatio :

‘Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi’, begitulah keputusan hati Herodes tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal. Banyak orang mengatakan bahwa Orang Nazaret itu adalah ‘Yohanes Pembaptis yang bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia’, ada yang lain mengatakan: ‘Dia itu Elia!’, dan yang lain lagi mengatakan: ‘Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu’.

Herodes begitu teringat kepada Yohanes karena peristiwa konyol yang dilakukannya sendiri. Dia melakukan pembunuhan karena sebagai raja dia tidak mau kehilangan muka di hadapan para tamu. Harga diri lebih penting daripada kebenaran yang memang harus dijunjungnya, malahan harus dibangga-banggakan. Itulah yang dilakukan Herodes dalam tebar pesona di hadapan para tamunya, yang tentunya akan lebih berat lagi dilakukan di hadapan banyak orang, kaum kecil, kaum yang mudah dipecundangi.

Pengakuan Herodes bukanlah pengakuan iman karena pengenalannya kepada sang Guru. Pengakuannya berdasarkan kegelisahan jiwa dan dosa yang diembannya, itu pun tidak mengundangnya dalam pertobatan. Semuanya sekali, karena memang dia tidak mau mencari jati diri yang akan menyempurnakan dirinya. Kesadaran seseorang akan jati diri sebagai ciptaan termulia dari segala ciptaan, bahkan segambar dengan Allah akan mendorong seseorang kembali kepada Allah yang penuh kasih.

Herodes sebagai seorang raja tidak mampu menyuarakan kebenaran bahkan suara hatinya sendiripun, sedangkan Yohanes adalah seorang pribadi yang sangat berani untuk menyatakan apa yang benar dan apa yang salah,  bahkan berani menegur seorang raja, Herodes, dengan mengatakan : ‘tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!’.

Setiap orang harus berani mencari kebenaran, walau bila harus memanggulnya karena kenyataan hidup yang di hadapinya. Kebenaran salib dipanggul Yesus untuk mencapai kemuliaan, dan bahkan menyelamatkan nyawa banyak orang; dan itulah yang tidak dilakukan oleh Herodes. Kita adalah para murid Kristus yang tentunya harus berani mengutamakan kebenaran yang ditebarkanNya.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar tetap setia padaMu, dan ketika kami berada pada situasi yang dapat menyuarakan kebenaranMu, semoga kami semakin berani membela yang kecil dan tertindas hidupnya.  Amin




Contemplatio:

 

'Dia adalah Yohanes Pembaptis yang sudah bangkit dari antara orang mati, dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia’.

 

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening