Jumat dalam Pekan Biasa VII

28 Februari 2014

Yak 5: 9-12  +  Mzm 103  +  Mrk 10: 1-12

                                                                                          

 

Lectio :

Suatu hari Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situ pun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula. Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?" Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?" Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."

 

 

Meditatio :

Suatu hari Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situ pun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula. Pengajaran Yesus, Guru dari Nazaret memang selalu mendapatkan perhatian banyak orang, karena memang Dia mengajarkan kebenaran dan keselamatan. Pengajaran Yesus selalu membuka wacana baru bagi setiap orang yang mau mendengarkanNya.

Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya. Sungguh berbeda dengan orang-orang Farisi yang memang mencari-cari kesalahan orang lain. Namun Yesus tidak berhenti pada kekurangan umatNya, malahan menggunakan semua ini sebagai kesempatan untuk mewartakan kabar InjilNya. ‘Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?’, tanya orang-orang Farisi, Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai’. Kalau Musa sang nabi kita memberi ijin setiap orang boleh menceraikan isterinya, mengapa kita melawannya? Adakah di antara kita ini yang lebih besar dari Musa, Yakub atau Abraham (Yoh 4 dan 8)?

‘Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu’, tegas Yesus kepada orang-orang Farisi. ‘Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia’. Perceraian adalah perlawanan terhadap Allah. Perkawinan adalah kehendak Allah, dan Allah yang menyatukan. Tidak maukah Allah memahami sebuah pasangan berpisah, saling melepas satu dengan lainnya, bila cinta mereka sudah mengering? Apakah memang bisa cinta itu mengering? Apakah bukan soal ketidaksetiaan seseorang terhadap pasangannya yang mengakibatkan perceraian? Aku mencintaimu sebagai suami atau isteri adalah suatu penyataan dan janji untuk berkata ya (bdk Yak 5: 9-12),  bukan janji yang dimakan waktu, melainkan janji yang mengatasi waktu, sekarang dan untuk selama-lamanya.

‘Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah’. Tajam kali penyataan Yesus ini. Allah hanya mengakui perkawinan pertama yang bersifat abadi, tak ada perkawinan kedua dan selanjutnya, dan perkawinan itu monogami, satu untuk selamanya.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, berkatilah keluarga kami agar senantiasa bersatu dalam segala suka dan duka hidup, serta setia dalam memegang janji perkawinan kami. Amin




Contemplatio :

‘Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia'. 


 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening