Kamis dalam Pekan Biasa V, 13 Februari 2014


1Raj 11: 4-13  +  Mzm 106  +  Mrk 7: 24-30

                                                                                          

 

 

Lectio :

Suatu hari Yesus pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."  Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.

 

 

Meditatio :

Suatu hari Yesus pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Sebab memang kehadiran Tuhan membawa sukacita. Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Pemberani sungguh perempuan ini, dan memang tidak dapat disangkal, dalam hidup rohani seorang perempuan memang selalu berdiri di barisan depan. Dia seorang pemberani, karena sepertinya tidak seharusnya dia maju menjumpai seorang guru, apalagi dunia patriakal yang lebih kental dari jaman sekarang ini.

Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing’, seru Yesus. Yesus menolaknya, karena memang dia tidak mendapatkan jatah yang telah disediakan, sebagaimana yang dialami oleh orang-orang Samaria. ‘Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria’ (Mat 10: 5). Tetapi perempuan itu menjawab: ‘benar, Tuhan, tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak’. Sebuah jawaban yang penuh iman dan pengharapan. Tidak berhenti pada diri sendiri walau sebagai anjing yang harus berhadapan dengan anak-anak kesayangan bapanya; dia lebih percaya kepada kasih sang bapa yang mau berbagi, dengan membiarkan remah-remah itu jatuh dari meja tuannya.

‘Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu’, sahut Yesus yang terkagum-kagum akan perkataan perempuan itu. Bukannya Yesus kehabisan kata-kata untuk berbicara dengan perempuan pemberani itu, melainkan menunjukkan kesediaan sang Guru untuk selalu berbagi kasih. Terhadap umatNya, sebagaimana kehendak Allah agar semua orang beroleh selamat. Kerinduan manusia selalu mendapatkan jawabanNya, walau terkadang harus menjalani jawaban pahit dari sang Empunya kehidupan ini, sebagaimana dialami perempuan yang dirundung duka.

Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar. Perempuan itu langsung pulang, karena dia yakin bahwa Orang Israel ini penuh belaskasih dan mampu membuat segalanya baik adanya. Apakah yang dilakukan Yesus juga merupakan pengoyakan kerajaan Israel yang tidak setia kepada Alah sebagaimana dilakukan oleh Salomo (1Raj 11: 4-13)? Atau memang malahan Yesus mau membuka sekat-sekat batasan kerajaan insani Israel dengan kehadiran seorang perempuan Siro Fenisia, sebab iman kepercayaan yang akan selalu mengikat seseorang untuk merasakan keselamatan daripadaNya, sebagaimana dilambungkan pemazmur juga hari ini: ‘berbahagialah orang-orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di segala waktu! Ingatlah aku, ya TUHAN, demi kemurahan terhadap umat-Mu, perhatikanlah aku, demi keselamatan dari pada-Mu’ (Mzm 106: 3-4).




Oratio :

Ya Yesus Kristus,  ajarilah dan kuatkan kami dalam menghadapi jaman yang penuh tantangan ini, agar mampu menjadi orangtua yang beriman, dalam mendidik dan menjadi teladan bagi anak-anak untuk semakin beriman dan menikmati keselamatan daripadaMu.  Amin






Contemplatio:

 

‘Ada seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Yesus, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya’.





 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening