Kamis dalam Pekan Biasa VII, 27 Februari 2014


Yak 5: 1-6  +  Mzm 49  +  Mrk 9: 41-50

                                                                                          

 

Lectio :

Suatu hari Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.  Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam. Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,  di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.  Karena setiap orang akan digarami dengan api.  Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain".

 

 

Meditatio :

‘Aku berkata kepadamu: sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya’, tegas Yesus. Kalau kemarin Yesus mengajak para murid, kita semua untuk berani memberi dan melayani akan mendapatkan berkat, demikian juga mereka yang menaruh belaskasih kepada kita, juga akan beroleh rahmat dan berkat. Kebaikan yang diberikan kepada sesama memang tak jarang mendatangkan berkat bagi mereka yang memberikannya, karena memang mereka pun diajak untuk melihat kehadiran Tuhan sang Empunya kehidupan dalam diri sesamanya.

‘Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut’. Penyataan Yesus ini sungguh-sungguh mengingatkan kita bahwasannya orang-orang yang terpinggirkan dan sering tidak diperhitungkan, seperti anak-anak kecil, mempunyai harkat dan martabat yang sama dengan kita. Penyepelean (meremehkan) orang-orang kecil tidak ubahnya adalah perlawanan terhadap Tuhan Allah sendiri, karena memang Dia adalah Allah bagi seluruh umat manusia. Allah kita adalah Allah bagi orang-orang hidup dan orang-orang mati (Rom 14).

‘Jika tangan, kaki atau matamu menyesatkan engkau, penggal atau cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung, atau kaki timpang dari pada dengan utuh kedua tangan, kaki dan matamu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam’. Mungkin terasa keras penyataan Yesus ini, tetapi dimaksudkan sungguh agar kita menguduskan selalu tubuh dan jiwa kita. Hendaknya kita tidak mencari kepuasan diri, mengutamakan kepuasan insani yang menjerumuskan hidup ini kepada kebinasaan.

‘Setiap orang akan digarami dengan api’. Itulah pengudusan, yang kemungkinan besar amat menyakitkan tubuh insani kita, tetapi akan memampukan jiwa raga kita menikmati sukacita ilahi, yang memang lepas bebas dari segala kecenderungan insani. Semua orang akan mendapatkan pengudusan oleh Allah mengingat keterikatan kita akan dunia.  ‘Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain’. Hal ini dikatakan Yesus mengingat segala kemampuan yang kita miliki, yang mana berbeda satu dengan lainnya. Setiap oranag mempunyai talenta dan rahmatNya, yang dibagikan Tuhan sang Empunya kehidupan demi kebersamaan hidup. Inilah garam kehidupan, yang kiranya harus kita bagikan kepada sesama guna menciptakan dan mendatang kehadiran Kerajaan Allah yang penuh damai dan sukacita. Kedamaian ilahi amat tampak dalam relasi setiap orang yang percaya kepadaNya, sebaliknya kesemena-menaan diri menghilangkan rasa damai dan sukacita itu (bdk Yak 5: 1-6). Garam kiranya sungguh bermakna bila digunakan sebagimana mestinya.



 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, kuduskanlah jiwa raga kami agar kami semakin kedapatan setia di hadapanMu dan boleh menikmati perjamuan kudus bersama seluruh umatMu yang telah mendahului kami bersamaMu.

Yesus jadikanlah kami semakin setia kepadaMu. Amin.




Contemplatio :

‘Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain’.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening