Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah, 2 Februari 2014

Mal 3: 1-4  +  Ibr 2: 14-18  +  Luk 2: 22-32

 

 

Lectio :

Suatu hari ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, Yusuf dan Maria membawa sang Bayi ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."

 

 

Meditatio :

Suatu hari ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, Yusuf dan Maria membawa sang Bayi ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan. Sebuah ketaatan yang patut dikagumi yang dilakukan Yusuf dan Maria. Ketaatan akan hukum Tuhan. Maria harus dikuduskan, karena dia baru saja bersalin. Sebuah tindakan yang bagus dan patut dikagumi. Namun patut disayangkan peraturan itu, karena terjadi suatu pelecehan dan penodaan terhadap kaum perempuan. Mengapa Maria, dan juga perempuan-perempuan lain, harus dikuduskan setelah mereka melahirkan? Apakah perempuan yang baru saja melahirkan itu dalam keadaan tidak suci, bahkan berdosa? Apakah mereka telah berbuat dosa? Bukankah mereka melahirkan, karena kodratnya memang demikian? Apakah karena mengeluarkan darah di saat melahirkan, mereka dianggap berdosa? Tak jarang memang ada yang beranggapan, bahwa darah melambangkan kehidupan, maka bersimbah darah adalah suatu kenajisan, kotor. Itulah kejahatan Perjanjian Lama.

‘Katakanlah kepada orang Israel: apabila seorang perempuan bersalin dan melahirkan anak laki-laki, maka najislah ia selama tujuh hari. Sama seperti pada hari-hari ia bercemar kain ia najis. Selanjutnya tiga puluh tiga hari lamanya perempuan itu harus tinggal menantikan pentahiran dari darah nifas, tidak boleh ia kena kepada sesuatu apa pun yang kudus dan tidak boleh ia masuk ke tempat kudus, sampai sudah genap hari-hari pentahirannya’ (Im 12: 2.4). Sebuah peraturan hukum Taurat yang memojokkan kaum perempuan sebagai orang-orang yang secara rutin melahirkan dosa dan perlunya pengudusan diri. Pengudusan Maria sendiri, mereka ungkapkan dengan mempersembahkan korban persembahan yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati,  sebuah persembahan kaum miskin.  Maria dan Yusuf tidak menuntut perlakukan istimewa dari Allah walau mereka telah mengamini kehendakNya.

Mengapa Yusuf dan Maria membawa sang Bayi dalam pengudusan diri?  Seorang bayi yang lahir dalam keadaan suci, dia belum tahu berbuat dosa. Maria dan Yusuf juga tidak mempersoalkan kelemahan hukum Taurat, tetapi  secara sengaja mereka membawa sang Bayi ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, sebagaimana dikehendaki Tuhan Allah sendiri, yang tersurat dalam hukum Tuhan: ‘semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah’. Mereka telah menerima karunia terindah dalam hidupnya, maka mereka memberanikan diri mempersembahkan dan menyerahkan kembali kepada Allah sang Empunya kehidupan. Engkau yang memberi dan Engkau yang mengambil, terpujilah Engkau, hanya dapat diucapkan memang oleh orang-orang yang percaya kepadaNya.

Persembahan sang Bayi kepada Tuhan Allah menunjukkan bahwa Maria dan Yusuf bukanlah orang yang egois. Mereka memang telah diminta oleh Tuhan untuk menerima kehadiran sang Bayi, tetapi mereka tidak menuntut balik supaya Tuhan memperhatikan kemapanan jiwa raga mereka, sebaliknya tetap menyerahkan sang Bayi untuk  ‘menjadi besar, sebab Dia adalah Anak Allah Yang Mahatinggi. Dia akan duduk takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan’ (Luk 1: 32-33). Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka’ (Mat 1: 21). Sang Bayi dipersembahkan, karena kelak ‘Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa’ (Ibr 2: 17).Yusuf dan Maria mengembalikan sang Bayi, Yesus, kepada tugas perutusan yang diembanNya. Aku ini hamba Tuhan, terjadilah menurut kehendakMu.

‘Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel’. Sebuah kesaksian yang diberikan oleh Simeon terhadap sang Bayi, karena memang ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.  Simeon adalah seseorang ‘yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya, yang dapat tetap berdiri waktu Ia menampakkan diri’ (Mal 3: 2-3). Simeon malahan berani menggendong sang Kehidupan itu sendiri. Kesaksian Simeon sekaligus mengamini kerelaan Yusuf dan Maria yang mempersembahkan sang Anak tunggal mereka.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, Engkaulah sang Empunya kehidupan dan kami telah menerima segala rahmat yang indah di dalam hidup kami, mampukanlah kami agar selalu setia, taat dan tidak menjadi egois dalam mempersembahkan hidup dan keberadaan kami kepadaMu.  Amin





Contemplatio:

 

'Yusuf dan Maria membawa sang Bayi ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah'









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening