Sabtu dalam Pekan Biasa V, 15 Februari 2014


1Raj 12: 26-32  +  Mzm 106  +  Mrk 8: 1-10

                                                                                          

 

 

Lectio :

Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh." Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?" Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh."

Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

 

 

Meditatio :

Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh’,  kata Yesus kepada para muridNya. Dia tidak hanya mengajarkan sabda tetapi juga ingat akan kebutuhan mendasar setiap orang, yakni makan. Mengapa Yesus baru tergerak hatinya setelah hari ketiga mereka mengikutiNya? Bukankah hari itu juga, hari pertama, mereka pasti lapar dengan mengikutiNya?

Yesus begitu mudah tergerak hati oleh belaskasihan, karena memang itulah jiwa seorang Tuhan, sebab Tuhan Allah itu Kasih. Namun tidaklah demikian banyak orang, terlebih bila mereka berada dalam posisi berkuasa. Penguasa cenderung untuk selalu menikmati kemapanan hidup, sebagaimana dialami oleh Yerobeam (1Raj 12: 26-32), bukan hanya sekarang ini, malahan ingin terus berkelanjutan. Dia ingin berkuasa dan berkuasa, dan malah berani dengan tega tanpa rasa kemanusiaan membinasakan setiap orang yang menjadi saingan hidupnya. Kharakteristik seorang penguasa adalah tidak menghendaki takhta yang didudukinya ini hilang, dan tidak mampu memandang orang lain lebih baik daripada dirinya. Sungguh berbeda dengan orang-orang yang dipilih untuk melayani; dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, sebagaimana dilakukan sang Kristus Tuhan.

‘Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?’, sahut para murid. Pertanyaan para murid ini apakah hendak menyatakan juga bahwa mereka bisa memberi makan orang sebanyak itu cukup dengan sepotong roti, walau tidak kenyang? Ataukah memang harus sampai kenyang menjadi syarat seorang yang menyiapkan makan bagi orang lain? Jumlah mereka ada kira-kira empat ribu orang. Jumlah perempuan dan anak-anak tidak diperhitungkan; dan inilah kejahatan dunia patriakhal yang masih terasa sampai sekarang ini. Semangat kartini kiranya harus semakin dikumandangkan dalam budaya bangsa kita ini.

Yesus bertanya kepada mereka: ‘berapa roti ada padamu?’; jawab mereka: ‘tujuh’.

Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Mereka makan sampai kenyang. Yesus memperganda roti dan ikan. Yesus mempergandakan makanan yang menjadi kebutuhan dasar hidup setiap orang, walau memang hidup manusia tidak bergantung pada makanan (Mat. 4:4). Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Para murid ambil bagian dalam karya pelayanan pembagian roti; mereka dilibatkan oleh Yesus dalam membagi karya belaskasih Allah. Keterlibatan mereka sebenarnya dimulai dengan penyerahan roti dan ikan yang mereka miliki; Yesus bukannya membuat dari yang tidak ada menjadi ada, melainkan Dia memperganda dan membuat segala yang ada semakin indah dan dapat dinikmati oleh banyak orang. Yesus tidak membuat sesuatu yang baru, melainkan Dia hanya memperluas makna yang ada, yang dimiliki para muridNya menjadi semakin dinikmati oleh banyak orang.

Setelah peristiwa itu, Yesus menyuruh mereka pulang, dan Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus,  Engkau sendiri adalah Kasih dan Engkau melibatkan kami anak-anakMu untuk berbagi kasih kepada sesama, mampukan kami yang sudah menikmati kasihMu serta apa yang kami miliki ini tidak hanya kami nikmati sendiri, tetapi kami dapat membuatnya menjadi sesuatu yang lebih indah lagi bagi sesama kami yang membutuhkannya.  Amin





Contemplatio:

Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak’.



 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening