Selasa dalam Pekan Biasa IV, 4 Februari 2014

2Sam 18: 9-33  +  Mzm 86  +  Mrk 5: 21-43

 

 

 

Lectio :

Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

Di tengah perjalanan datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!" Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!" Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

 

 

Meditatio :

Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: ‘anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup’. Berani juga sang kepala rumah ibadat ini datang kepada Yesus. Dia seseorang yang mempunyai posisi di atas menyempatkan diri dan merunduk di hadapan seorang Guru dari Nazaret. Dia seorang ayah, yang bertanggungjawab atas keselamatan anak-anaknya.

Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Yesus tidak banyak bertanya-tanya tentang anaknya yang sakit itu. Permohonan hati dari seseorang yang merindukan pertolonganNya selalu mendapatkan perhatian. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Mengapa mereka semua mengikutiNya, bukankah akan mengganggu perjalananNya? Kalau pun berjalan cepat, dengan jumlah banyak orang akan menimbulkan kegaduhan social? Mengapa Yesus tidak melarang mereka?

Di tengah perjalanan datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: ‘anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?’. Kematian adalah akhir sebuah perjalanan. Untuk apalagi memanggil sang Guru? Usulan yang baik. Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: ‘jangan takut, percaya saja!’. Mereka pun meneruskan perjalanannya.

Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Benar memang, mereka semua diminta untuk tidak mengikutiNya, guna mempercepat perjalanan. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: ‘mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!’. Perkataan Yesus adalah perkataan Tuhan, dan bukanlah perkataan insani manusia, maka wajarlah kalau mereka menertawakan Dia. Yang dilihat manusia adalah yang kasad mata, sedangkan Allah melihat dengan hati. Itulah juga pengalaman Samuel ketika melihat Elliab, kakak Daud, di mana saat itu Samuel terpikat oleh perawakan seseorang, dan tidak memandangnya dengan hati.

Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: ‘talita kum, hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!’. Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Mukjizat itu nyata. Yesus membangkitkan orang mati. Yesus mampu melakukan semuanya itu, karena memang Dialah sang Empunya kehidupan. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan. Bagaimana dengan Yairus, apakah dia berterima kasih kepada Yesus? Apakah Yesus langsung pulang pada waktu itu? Mengapa Yairus tidak mengajak semua orang yang ada di situ melambungkan pujian syukur karena anaknya telah diselamatkan oleh sang Guru?

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, ajari dan tumbuhkanlah iman kami agar percaya dan selalu mengandalkan Engkau dalam situasi sesulit apapun, bahwa Engkaulah sang Empunya kehidupan yang mampu melakukan segalanya bahkan membangkitkan kematian sekalipun.  Amin




Contemplatio:

 

'Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!'.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening