Selasa dalam Pekan Biasa V, 11 Februari 2014


1Raj 8: 22-30  +  Mzm 84  +  Mat 7: 1-13

                                                                                          

 

 

Lectio :

Suatu hari serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?" Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia."

Yesus berkata pula kepada mereka: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban -- yaitu persembahan kepada Allah --, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan."

 

 

Meditatio :

 ‘Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?’, begitulah komentar dan protes orang-orang Farisi dan para ahli Taurat kepada Yesus. Mereka protes keras, karena memang ‘orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga’. Apa yang mereka sebut najis, ternyata bukan karena akibat dosa, melainkan karena melanggar peraturan adat istiadat nenek moyang. Sungguh baik sebenarnya menaruh perhatian terhadap leluhur, yang telah banyak berjasa bagi hidup kita, tetapi kiranya semuanya itu tidak mengalihkan diri dari aneka hal lainnya.

‘Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia’. Yesus menegaskan demikian, karena memang mereka mengutamakan aneka hal lahiriah, yang kasat mata daripada hal-hal rohani yang memberi kenyamanan jiwa. Padahalnya mereka bukanlah orang-orang bodoh, mereka adalah kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat, yang memang mempunyai kedudukan social yang tinggi. Mereka adalah orang-orang yang duduk di kursi Musa. Keselamatan jiwa dinomerduakan daripada tindakan-tindakan lainnya; contoh: ‘Musa berkata: hormatilah ayahmu dan ibumu, dan barangsiapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati, tetapi dengan seenaknya kamu mengatakan apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban dan kemudian kamu menelantarkan kedua oratua kalian’. Sungguh, ‘firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu’.

Salomo, seorang raja Israel, begitu merindukan selalu bantuan dan pertolongan Tuhan, sebagaimana diceritakan dalam kitab pertama Raja-raja (8: 22-30). Sang raja yang hidup tak berkekurangan berani mengutamakan Tuhan; tentunya kita yang hidup dengan segala kelemahan dan keterbatasan harus semakin berani bersandar pada sabda dan kehendakNya. Mengutamakan adat istiadat dan segala pengalaman insani hanya sebatas memberi kepuasan jiwa, tetapi sama sekali tidak memberikan sukacita yang akan mengarahkan hati dan budi kepada sang Empunya kehidupan.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami untuk semakin berani mengutamakan segala yang indah dan mulia yang berasal daripadaMu, terlebih-lebih kehadiranMu sendiri yang menyelamatkan. Amin.

 

 

Contemplatio:

 

'Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia’.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening