Selasa dalam Pekan Biasa VII, 25 Februari 2014


Yak 4: 1-10  +  Mzm 55  +  Mrk 9: 30-37

                                                                                          

 

Lectio :

Suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya pergi dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang;  sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit."  Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?"  Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.  Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."  Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:  "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku."

 

 

Meditatio :

‘Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit’, tegas Yesus kepada para muridNya.  Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. Apakah Petrus pada waktu itu hanya berdiam diri? Apakah Yesus juga tidak menantangnya kembali guna merevisi pemikirannya yang dahulu?

‘Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya’, kata Yesus mengomentari pembicaraan mereka di tengah jalan. Yesus sepertinya pura-pura tidak tahu akan pembicaraan mereka, walau memang mereka diam ketika Yesus mempertanyakan mereka, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Apakah mereka bersoal jawab tentang hal itu, karena sudah mulai memikirkan suksesi, pengganti sang Guru? Siapa yang menggantikan posisi Guru kelak? Seseorang menjadi terbesar adalah dia yang mampu membantu orang lain, sesamanya, sebab dengan keberanian membantu sesamanya, melayani orang lain, berarti dia seorang penolong, yang mampu menjaga dan memperhatikan sesamanya. Dialah yang terbesar, dan bukanlah mereka yang dijaga dan ditolong.

Untuk menegaskan penyataanNya itu Yesus malah mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:  ‘barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku’. Anak kecil adalah profil seorang yang tak berdaya. Keberanian menerima seseorang yang tak berdaya, yang memang membutuhkan pertolongan, mendatangkan rahmat dan berkat Tuhan yang Mahakasih. Dia, bukan saja menyambut sang anak kecil yang lemah dan tak berdaya itu, malahan menyambut Dia sendiri yang hadir dalam diri sesamanya, sebab apa yang kamu lakukan untuk saudaraKu yang paling hina ini, engkau telah melakukannya untuk Aku (Mat 25).

Meninggikan diri dan sombong, minta diperhatikan dan dilayani memang adalah kecenderungan setiap orang. Itulah kekhasan hidup insani. Itu wajar. Itulah hidup kita. Namun kiranya kita tidak bisa mengikuti terus-menerus; sebab pertama kita tidak akan dipuaskan. Kepuasan insani itu tidak mempunyai batas, dia terus-menerus menuntut dan menuntut, tetapi ternyata dapat berhenti dan hilang, bila memang kita berani melawannya. Kedua, aneka kecenderungan tadi juga akan menjauhkan kita dari persaudaraan sejati. Tidak ada orang yang akan bergaul dengan kita, kalau memang kita begitu sombong dan selalu minta dilayani, dan bukannya melayani. Banyak orang akan menjauhi kita. Ketiga, kecendrungan insani selalu bertentangan dengan segala hal yang besifat ilahi, dan tentunya berlawanan dengan kehendak Allah. Orang yang mencari kepuasan insani melulu berujung pada pertengkaran. ‘Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi’. Mata ganti mata, gigi ganti gigi pun akan terlaksana. Sebaliknya, orang yang berani merendahkan diri terhadap sesamanya dan terlebih pada Allah sendiri akan mendapatkan banyak berkat. ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Karena itu tunduklah kepada Allah, dan mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu’, pinta Yakobus kepada kita semua (4: 1-10). Amatlah tepat bila kita mengamini nasehat Yakobus ini.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur kepada atas segala yang indah dan baik, yang Engkau limpahkan kepada kami. Semoga segala pemberianMuitu menjadi bekal bagi kami dalam menemani sesama kami. Kami ingin sesama kami pun mengalami sukacita yang sama seperti kami. Amin.





Contemplatio :

 

‘Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku’.


 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening