Senin dalam Pekan Biasa IV, 3 Februari 2014

2Sam 16: 5-13  +  Mzm 3  +  Mrk 5: 1-20

 

 

 

Lectio :

Suatu hari sampailah Yesus bersama para murid di seberang danau, di daerah orang Gerasa. Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. Orang itu diam di sana dan tidak ada seorang pun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorang pun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu.

Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak: "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!" Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: "Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!" Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: "Siapa namamu?" Jawabnya: "Namaku Legion, karena kami banyak." Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu.

Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan, lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: "Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!" Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya.

Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi. Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka. Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" Orang itu pun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

 

 

Meditatio :

Suatu hari sampailah Yesus bersama para murid di seberang danau, di daerah orang Gerasa. Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. Orang itu diam di sana dan tidak ada seorang pun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorang pun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. Pasti harus orang yang lebih kuat daripadanya, sebab ‘bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu? Sesudah diikatnya barulah dapat ia merampok rumah itu’ (Mat 12: 29). Demikianlah seseorang yang mampu mengendalikan orang yang kerasukan roh jahat, dia harus mampu menguasai roh yang merasukinya.

‘Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang itu!’, seru Yesus dari kejauhan. Mendengar suaraNya dan melihat Yesus, berlarilah orang yang kerasukan mendapatkan-Nya, lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak: ‘apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!’. Teriakan orang itu menunjukkan bahwa ada Seseorang yang lebih kuat daripadanya. Dia tahu siapakah Orang yang datang kepadanya, dan kini ada di depan matanya. Dia adalah Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi. Dia bukan sembarang Orang.

‘Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!’ seru mereka, dan  Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu; dan kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. Mengapa Yesus mengijinkan roh-roh itu masuk pada kawanan babi? Apakah Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh roh-roh itu setelah mereka merasuki kawanan babi itu? Yesus pasti tahu segala apa yang akan terjadi. Kebinasaan roh itu juga akan kebinasaan mereka yang dirasukinya. Semua yang terjadi itu menunjuk betapa besar kuasa Yesus, sang Penyelamat. Dia berkuasa atas hidup dan kematian. Keselamatan umatNya adalah pilihan pertama; jiwa manusia lebih penting dan mulia daripada kawanan hewan meski besar jumlahnya. Manusia adalah ciptaan yang paling dikasihiNya, karena manusia tercipta sesuaai dengan citra dan gambarNya.

Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi. Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka. Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. Mengapa mereka semua tidak bersyukur kepada Tuhan, bahwasannya salah seorang dari mereka diselamatkan? Mengapa mereka tidak bergembira karena ada seseorang yang mendapatkan kesembuhan karena dibebaskan dari kuasa kegelapan? Apakah mereka mendesak Yesus pergi dari situ, karena mereka gelisah dengan aneka ternak yang mati; jangan-jangan harta benda mereka yang lain nanti hilang juga? Mereka menolak kehadiran Yesus, sepertinya karena lebih menaruh pada kepentingan diri sendiri.

Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: ‘pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!’. Percaya akan belaskasih Allah tidak harus menjadi muridNya. Kasih Allah itulah yang harus dirasakan oleh setiap orang dan bahkan harus berani membagikannya kepada orang lain. Kiranya prinsip subsidiaritas juga menjadi pegangan bagi karya pelayanan kita. Kita memang perlu membantu dan menolong orang lain, tetapi kiranya harus berani membebaskan mereka untuk hidup mandiri sebagaimana cita-cita hidup yang dipilihnya. Janganlah kita membelenggu orang untuk selalu bersama kita, karena kita telah berbagi kasih kepadanya. Sikap pembiaran inilah yang juga pernah dilakukan Daud terhadap orang-orang keluarga Saul (2Sam 16: 5-13), sebagaimana kita renungkan dalam bacaan hari ini. Sebuah sikap yang sulit dimengerti, tetapi dengan berani mengembalikan semua kepada Tuhan sang Empunya kehidupan.

Orang itu pun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur mempunyai Allah seperti Engkau,  Kau yang berkuasa atas hidup dan kematian. Ampunilah kami karena seringkali di saat mengalami masalah kami lari daripadaMu. Ajarilah kami untuk selalu setia dan bergantung kepadaMu.  Amin




Contemplatio:

 

'Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!'








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening