Senin dalam Pekan Biasa VII, 24 Februari 2014


Yak 3: 13-18  +  Mzm 19  +  Mrk 9: 14-29

                                                                                          

 

Lectio :

Suatu hari ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang mempersoalkan  sesuatu dengan mereka. Pada waktu orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia.  Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?"  Kata seorang dari orang banyak itu: "Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia.  Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat."  

Maka kata Yesus kepada mereka: "Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!"  Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa.  Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: "Sudah berapa lama ia mengalami ini?" Jawabnya: "Sejak masa kecilnya.  Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami."  Jawab Yesus: "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"  Segera ayah anak itu berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!"

Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kata-Nya: "Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!"  Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya  seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: "Ia sudah mati."  Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri.

Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?"  Jawab-Nya kepada mereka: "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa."

 

 

Meditatio :

Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia.  Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat’. Begitulah keluhan beberapa orang terhadap Yesus tentang para muridNya; sepertinya mereka agak ribut karena beberapa ahli Taurat  mempersoalkan  keberadaan para murid dengan segala SDM yang dimiliki, yang ternyata mereka tidak mampu menyembuhkan seseorang yang dikuasai oleh roh yang membisukan. Mereka menuntut dan menuntut, walau tidak jelas apa yang menjadi persoalan mereka; apakah karena ketidakmampuan para murid, atau ketidakhadiran sang Guru atau keberadaan orang yang kerasukan itu.   

Maka kata Yesus kepada mereka: ‘hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!’.  Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa.  Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: ‘sudah berapa lama ia mengalami ini?’. Jawabnya: ‘sejak masa kecilnya; dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya’. Sepertinya Yesus meminta klarifikasi terhadap keberadaan anak yang kerasukan itu. Cukup lama juga anak itu menderita karena ketidakberdayaan orang-orang pada waktu itu berhadapan dengan kuasa kegelapan. Bagaimana peranan ahli-ahli Taurat atas keberadaaan anak itu? Apakah keberadaan anak itu juga menjadi umpan balik bagi para murid untuk menanyakan peranan para ahli Taurat? Pertemuan Yesus dengan anak itu tidak menjadikan kuasa kegelapan lari dari anak itu, malahan semakin tajam menyiksa anak itu.

‘Jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami’, tantang Yesus terhadap orang itu, karena ternyata dia tidak percaya akan kekuasaan Tuhan yang mahakasih. Di satu pihak dia membutuhkan pertolongan, tetapi dia tidak percaya bahwa sang Guru itu mampu melakukan segala yang baik bagi umatNya. Apakah kesusahan dan terlalu lamanya anaknya dikuasai oleh roh yang membisukan itu, yang membuat dia kurang mampu memandang segala yang baik dan indah itu berasal dari atas?  

‘Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!’, sahut orang itu, yang sungguh terhentak karena teguran sang Guru. Tolonglah aku yang tidak percaya ini, sebuah ucapan kepercayaan dan mohon belaskasihNya. Dia tidak lagi hanya memohonkan pertolongan bagi anaknya, tetapi juga bagi dirinya.

Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kata-Nya: ‘hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!’.  Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya  seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: ‘ia sudah mati’,  tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri.

Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: ‘mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?’. Adakah rahasia yang disembunyikan Yesus sehingga mereka tidak mampu melakukan sesuatu yang baik? Apakah pertanyaan para murid menunjukkan sebuah tuntutan dari mereka, karena mereka sudah sempat dipersoalkan oleh para ahli Taurat?   Jawab-Nya kepada mereka: ‘jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa’. Sebuah jawaban yang sepertinya tidak bisa ditentang oleh para murid, karena bersangkutan dengan diri mereka sendiri. Predikat mereka sebagai para murid sepertinya tidak mereka nikmati sendiri, sebab Yesus yang selalu menempatkan diri untuk berdoa dan berdoa di tempat sunyi seorang diri tidak menjadi panutan bagi mereka. Mereka tidak mau memberi waktu untuk berdoa sebagaimana dilakukan oleh sang Guru.

Doa memang memberikan berkat melimpah kepada setiap orang; dan bagaikan benih yang ditanamkan, doa akan menumbuhkan buah-buah kebenaran yang indah dan mulia. Doa akan mendatangkan hikmat yang berasal dari atas, dan itu tampak dalam diri orang-orang yang menikmatinya seperti: ‘pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik’ (Yak 3). Kita nikmati keindahan buah-buah doa, yang tentunya kita sendiri harus berani menyempatkan diri untuk berani berdoa dan berdoa. Doa mampu mengubah diri setiap orang serupa dengan Allah sendiri.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar doa menjadi suatu kebutuhan dalam hidup kami, dan di saat menghadapi tantangan hidup, kami dapat merasa lebih tenang dan damai serta menikmatinya sebagai anugerah dari padaMu. Amin





Contemplatio :

 

‘Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa’.




 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening