Hari Raya Santo Yusuf, Suami Santa Maria 19 Maret 2014

2Sam 7: 4-16  +  Rom 4: 13-22  +  Mat 1: 16.18-21.24

                                                                                          

 

 

Lectio :

Seturut garis keturunan keluarga, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Diceritakan pada waktu Maria, ibu Yesus, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.  Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."  Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.

 

 

Meditatio :

Seturut garis keturunan keluarga, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Yesus adalah Anak Yusuf? Ya benar. Semuanya terjadi, karena keberanian Yusuf menerima Maria sebagai isterinya.

Yusuf dengan berani menerima Maria sebagai isterinya, karena dia tidak habis pikir, bagaimana semuanya bisa terjadi.  Maria yang bertunangan dengan Yusuf, ternyata telah mengandung,  sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Suatu peristiwa yang tidak mengenakkan dan menjadi aib bagi keluarga. Yusuf, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama Maria di muka umum, bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. ‘Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena dia belum bersuami?’ (bdk. Luk 1: 34). Adalah hak Yusuf untuk marah dan menuntut pertanggungan jawab, tetapi semuanya itu tidak dilakukannya.

Ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: ‘Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka’. Ternyata Maria mengandung karena Roh Kudus; dan Yusuf malah mendapat kepercayaan dan tugas untuk menamakan sang Bayi yang lahir nanti Yesus, yang artinya Allah menyelamatkan,  karena memang Dia, lahir dan datang ke dunia untuk  menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Allah meminta Yusuf untuk masukkan Anak yang dikandung Maria itu sebagai Anaknya sendiri, yakni masuk dalam keluarga Yakub, yang adalah keturunan raja Daud.

Keberanian Yusuf menerima Maria adalah hal yang luar biasa dalam sejarah keselamatan; dan tak dapat disangkal Yusuf mengamini kehendak Allah yang telah dinyatakan sejak semula dalam kitab Samuel. SabdaNya: ‘Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya.  Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia’ (2Sam 7: 13-14). Yusuf meneruskan kemauan Allah untuk membangkitkan keturunan sang raja Daud untuk membangun rumahNya yang kudus.

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Kiranya Yusuf dan Maria berjumpa, dan mereka berbicara untuk menanggapi sabda dan kehendakNya. Tentunya mereka berdoa bersama, dan menjawab kehendak Tuhan dengan berkata:  ‘sesungguhnya kami ini adalah hamba-hamba Tuhan; jadilah pada kami menurut perkataanMu itu’ (bdk. Luk 1: 38) . Mereka berseru demikian, karena memang kedua-duanya mengamini kehendak dan kemauan Tuhan sang Empunya kehidupan. Apakah iman Yusuf sama seperti iman Abraham yang ‘sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa’ (Rom 4: 18). Sepertinya sama, karena kedua-duanya menghadapi kenyataan hidup yang tidak dapat diperkirakan secara matematis, hanya saja janji yang diterima Abraham adalah janji yang berkenaan dengan dirinya sendiri yang hendak menjadi bapa bangsa-bangsa, tetapi tidak demikian denganYusuf;  dia menjadi bapa sang Empunya bangsa-bangsa.

Gereja Allah yang satu, kudus, katolik dan apostolic adalah kemah yang dibangun oleh sang Keturunan Daud, yakni Yesus sang Mesias. Bagaimana kita menikmati dan boleh tinggal dalam kemahNya yang kudus ini? Petrus, Yakobus dan Yohanes, ketika Yesus hadir dan menampakkan diri dalam kemuliaan, amat merindukan boleh tinggal terus bersamaNya dan ingin mendirikan kemah-kemah kudus; tentunya kerinduan itu juga tetap bergaung dalam diri kita yang memang telah diangkat menjadi anak-anak Bapa di surga.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, dampingilah kami dalam setiap peristiwa hidup kami, agar selalu siap menghadapi resiko dan tantangan, serta setia dalam menanggapi sabda dan kehendakMu; terlebih lagi kerinduan kami untuk selalu tinggal bersamaMu.

Santo Yusuf doakanlah kami.  Amin





Contemplatio :

'Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening