Kamis Pekan Prapaskah II, 20 Maret 2014

Yer 17: 5-10  +  Mzm 1  +  Luk 16: 19-31

                                                                                          

 

 

Lectio :

Suatu hari Yesus berkata-kata kepada para muridNya; sabdaNya:  "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.  Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,  dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.  Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.  Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur.

Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.  Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.  Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.  Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.  Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,  sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.  Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.  Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.  Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati".

 

 

Meditatio :

Ada 2 orang meninggal; yang satu adalah orang kaya dan satu lagi orang yang miskin. Digambarkan dalam realitas setelah kematian itu ialah orang yang tadinya kaya kini menderita sengsara, sedangkan Lazarus yng tadinya miskin duduk di pangkuan Abraham.

Saking sengsaranya, berteriaklah dia kepada Abraham: ‘Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini’.  Sepertinya Abraham menolak keinginan itu. Pertama, karena orang kaya itu telah menerima segala yang baik sewaktu hidupnya, sedangkan Lazarus yang dahulu menerima segala yang buruk.  Kedua,  di antara kita terbentang jurang yang tak terseberangi. Komunikasi sekarang ini terputus, karena memang kondisi kita selama di dunia yang membuatnya.

‘Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,  sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini’, kata orang yang tadinya kaya itu. Dia merasa bertanggungjawab terhadap saudara dan saudarinya. Maksud baik orang itu ternyata tidak sesuai dengan kenyataan hidup yang ada selama ini, karena memang selama ini sudah ada pengajaran dan  kesaksian Musa dan para nabi, yang ternyata sepertinya tidak mendengarkan perhatian mereka. Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati. Kesaksian Musa dan para nabi amat penting , karena memang mereka menyampaikan warta sukacita, yakni kabar Allah sendiri.

Injil hari ini hendak menegaskan apa yang telah dinyatakan Tuhan melalui nabi Yeremia, yakni: ‘Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya’  (17: 10). Allah selalu mengganjar orang-orang yang melaksanakan kehendakNya dengan segala kebaikan; walau tak dapat disangkal, kebaikan hati setiap orang tidak mampu memaksa Allah untuk menurunkan rahmat dan berkatNya kepada mereka. Setiap orang diundang untuk berani memilih yang terbaik bagi hidupnya; bahkan mereka mendapatkan pujian dari padaNya: ‘diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!  Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. Sebaliknya,  terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!  Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk’.

Orang kaya yang tidak peduli terhadap  Lazarus adalah gambaran yang mengandalkan kekuatan diri sendiri. Dia juga seperti hadir secara nyata bersama Yesus, bukannya dalam perumpamaan hari ini, melainkan datang sendiri dan bertanya tentang bagaimana seseorang  dapat diijinkan masuk Kerajaan Surga (Mat 19: 14-23).

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, mampukan dan dampingi kami agar di saat kami hidup dalam kelimpahan, kami tidak miskin cinta kasih tetapi menjadi saluran berkat bagi sesama. Di saat harus menderita dan memikul salib kehidupan, kami tetap setia menjalaninya dan berpengharapan kepadaMu.  Amin






Contemplatio :

'Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk'.

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening