Minggu Masa Prapaskah II, 16 Maret 2014

Kej 12: 1-4  +  2Tim 1: 8-10  +  Mat 17: 1-9

                                                                                          

 

 

Lectio :

Suatu hari Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.  Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.  Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."  Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."  Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.  Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!"  Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

 

 

Meditatio :

Suatu hari Yesus bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes berada di  sebuah gunung yang tinggi. Ketika mereka sendiri saja, berubahlah  rupa Yesus di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang; dan nampaklah kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Sebuah peristiwa ilahi yang sungguh-sungguh menakjubkan. Cahaya yang menyertai Yesus, yang bagikan matahari itu, tidak menyilaukan mata mereka. Ada dua orang tokoh besar dalam sejarah Israel, yakni Musa dan Elia, yang medampingi sang Mesias mulia. Realitas surgawi ada di depan mata para murid, dan bahkan mereka menikmatinya dengan rasa sukacita.

‘Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia’. Inilah ucapan bahagia seorang Petrus yang merasakan kehadiran ilahi. Entah mengapa hanya Petrus yang berteriak demikian. Namun tak dapat disangkal ucapan Petrus adalah ungkapan sukacita setiap orang dalam menikmati kehadiran sang Ilahi. Jika Engkau mau Tuhan.  Sebuah ungkapan kerendahan hati, bahwasannya semua itu adalah anugerah dari Allah. Petrus hanya bisa berharap dan berharap akan segala yang indah dan mulia ini. Ini kesempatan agung dan mulia, janganlah segera berlalu.

‘Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia’. Kata-kata inilah terdengar oleh para murid; sebuah suara yang berasal dari dalam  awan terang yang menaungi mereka. Suara itu pastilah suara sang Empunya segala yang ada, yakni Tuhan Allah sang Pencipta, sang Bapa di surga.  Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.  Suara itu tidak langsung menanggapi permintaan Petrus memang, tetapi tak dapat disangkal menjawab apa yang  menjadi kerinduan mereka. Semua yang membahagiakan dan memberikan sukacita illahi itu dapat dinikmati oleh oleh para murid, bila mereka berani mendengarkan  Dia yang dikasihi Bapa di surga, dan yang hanya kepada Dia Allah berkenan. Dialah Yesus Kristus, yang kini berada di depan mereka.  Dia datang dan  menyentuh mereka sambil berkata: ‘berdirilah, jangan takut!’. Mendengar ajakan itu, mereka mengangkat kepala, mereka melihat Yesus seorang diri,  di depan mereka. Dialah Anak yang dikasihi Bapa dan kepadaNyalah Bapa berkenan.

Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: ‘jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati’. Penegasan Yesus hendak menyatakan bahwasannya Dia memberikan sukacita ilahi itu tidak dengan melemparkannya dari atas. Dia mengajak setiap orang untuk berani mendaki gunung; sebagaimana Yesus sendiri yang berani mendaki gunung keselamatan, demikian juga setiap orang diajak untuk merasakan bersamaNya.  Keselamatan itu hanya ada dalam salib Yesus Kristus, dalam kematian dan kebangkitanNya. Penglihatan itu hendaknya disampaikan sesudah kebangkitanNya dari alam maut agar setiap orang berani memanggul salib kehidupannya sehari-hari. Untuk mengkonkritkan penyataan Yesus, Paulus menegaskan: ‘ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa’ (2Tim 1: 8-10). Pewartaan kemuliaan harus dinyatakan sesudah kematian dan kebangkitanNya, karena memang berkat persitiwa Paskah inilah semua orang beroleh keselamatan, dan bukannya karena jasa dan kebaikan kita manusia.

Mendengarkan Dia, Yang dikasihi Bapa, dan berani memanggul salib kehidupan sehari-hari memang perlu keberanian meninggalkan manusia lama dan hidup sesuai dengan kehendak dan kemauan Allah; dan itulah yang dicontohkan Abraham dari Perjanjian Lama yang sudah mempunyai iman begitu luar biasa (Kej 12: 1-4).


 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar mampu mendaki gunung keselamatanMu dengan memanggul salib kehidupan kami masing-masing yang pasti berat, tetapi kami percaya bersama Engkau, kami pasti dapat mencapai puncaknya dan menikmati keheningan serta kebahagiaan abadi bersamaMu.  Amin





Contemplatio :

'Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati’.

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening