Minggu Pekan Prapaskah III, 22 Maret 2014


Kel 17: 3-7  +  Rom 5: 1-2.5-8  +  Yoh 4: 5-42

                                                                                          

 

 

Lectio :

Suatu hari sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.

Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum." Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?" Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."

 

 

Meditatio :

‘Berilah Aku minum’, pinta Yesus kepada seorang perempuan Samaria. Mungkin Yesus haus di siang hari itu. ‘Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?’, sahut perempuan itu dengan berani; bukannya segera memberi Dia minum, perempuan itu malahan menantang. Perempuanlah yang seharusnya meminta bantuan dari laki-laki, dan bukan sebaliknya. Apalagi, bukankah, ‘orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria’. Sulit dimengerti dan tidak wajar memang, seorang Laki-laki ini meminta bantuan terhadap seorang perempuan yang lemah dan terbatas ini. Namun sekali lagi, perempuan ini adalah seorang pemberani. Tidak biasanya memang Laki-laki meminta bantuan dari seorang perempuan, apalagi untuk menimba air, tetapi ‘jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: berilah Aku minum, niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup’, tantang balik Yesus terhadap perempuan itu. Sebab Air yang diberikanNya juga melebihi air yang diberikan melalui Musa sewaktu bangsa Israel di Meriba (Kel 17).

‘Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?’, sahut perempuan itu. Dia memang belum tahu siapakah Orang yang ada di depannya ini, tetapi sepertinya dia mulai mampu membedakan dan merasakan siapakah Dia ini. Perempuan itu mulai menyapa Orang asing itu dengan kata-kata Tuhan dan Engkau,  karena Dia ini adalah  Seseorang yang patut dihormati dan dikagumi. Namun untuk menunjukkan kepercayaan dan keteguhannya, perempuan itu pun dengan berani membandingkan Orang Asing ini dengan bapa Yakub yang memang mampu membuatkan sumur yang memberi air kehidupan bagi keduabelas suku Israel.

‘Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal’, jawab Yesus. Atas keteguhan perempuan ini, Yesus langsung memberikan jawaban pasti, bahwasannya air yang diberikanNya adalah Air dari surga, yakni Air keabadian. Bila kita minum air yang abadi, kita akan beroleh keabadian, karena memang air minum kita adalah air keabadian. Air keabadian itulah yang akan terus melimpah dari diri orang-orang yang telah meminumNya. Sebab Air keabdian itu adalah Sabda kasih Allah sendiri. Sebagaimana sumur Yakub yang telah memberi kehidupan kepada bangsa Israel, demikian juga Air Kebadian, yakni Sabda kasih Allah, memberi kehidupan bagi setiap orang yang meminumnya, dan malahan membuat orang hidup kekal.

‘Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air’, sahut perempuan itu, yang mengungkapkan kerinduannya akan yang abadi. Percakapan dengan Orang asing ini sungguh-sungguh menggugah perempuan ini untuk semakin berani menikmati air keabadian itu; dan sungguh  ‘perempuan itu meninggalkan tempayannya’, karena memang air keabadian mulai melimpah dalam dirinya, dan dia tidak membutuhkan lagi tempayan untuk dirinya,  ‘dia  lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?’. Dia membagikan air yang melimpah itu kepada sesamanya.

 

 

Oratio :

Pengharapan tidak mengecewakaan.

Ya Tuhan Yesus, semoga pesan Paulus ini juga semakin meneguhkan kami untuk semakin berani berharap dan berharap kepadaMu. Karena memang pengharapan kami adalah pengharapan akan hidup kekal, yang hanya dapat kami peroleh daripadaMu.

Yesus, teguhkanlah pengharapan kami kepadaMu. Amin.

 



Contemplatio :

‘Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus lagi’.

 

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening