Minggu Pekan Prapaskah III, 30 Maret 2014


1Sam 16:  6-13  +  Ef 5: 8-14  +  Luk 18: 9-14

                                                                                          

 

 

Lectio :

Pada waktu itu berkatalah orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi yang menantang dia bersoal jawab: ‘kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta.  Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa."  Jawab mereka: "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" Lalu mereka mengusir dia ke luar.

Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?"  Jawabnya: "Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya."  Kata Yesus kepadanya: "Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!"  Katanya: "Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembah-Nya.

 

 

Meditatio :

‘Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya’, kata orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Orang berdosa adalah orang yang melawan kehendak Allah, tentunya Allah tidak akan mendengarkan jeritan dan keluhan mereka sedikitpun. Orang-orang yang mendengarkan sabda dan kehendakNya, yakni orang-orang baik, yang selalu mendapatkan perhatian dan kasih sayangNya. Kiranya ini menjadi rumus umum bagi setiap orang yang mengenal Allah. Kepercayaan inilah yang  memang layak dan pantaslah kalau orang-orang Farisi dan ahli Taurat pernah merasa gerah dan jengkel ketika Yesus datang dan makan bersama dengan kaum berdosa dan pemungut cukai; bukankah orang-orang baik yang harus mendapat perhatian daripadaNya, dan bukannya kaum pendosa.  

‘Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta.  Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa’. Hanya Allah yang membuat segala-galanya baik adanya, dan memang hanya Allah yang dapat mengubah hal yang kodrati dalam diri manusia. Yesus hanya seorang Manusia; Dia seorang Guru yang berasal dari Nazaret. Dia sama dengan kita.

‘Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?’, komentar orang-orang Farisi kepada orang itu, karena mereka merasa dikotbahi dan diberi wejangan oleh seseorang yang masih ber-bau kencur itu (Jawa: masih muda dan belum berpengalaman hidup). Tentunya mereka malu dengan perkataan yang diucapkan orang yang tadinya buta itu, karena memang mereka adalah orang-orang terhormat, yang telah menduduki kursi Musa.

Beberapa hari kemudian, ketika menjumpai orang yang tadinya buta itu, bertanyalah Yesus kepadanya: ‘percayakah engkau kepada Anak Manusia?’.  ‘Aku percaya, Tuhan!’, sahut orang itu dengan tegas, setelah sebelumnya dia bertanya: siapakah Dia, Tuhan? supaya aku percaya kepada-Nya, dan Yesus langsung menjawabnya: ‘engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!’. Dia langsung percaya kepada sang Anak Manusia yang ada di  depannya, karena memang dia telah menikmati kasih yang luar biasa indahnya, yakni lepas dari ikatan buta semenjak lahir, dan hanya Orang yang datang dari Allah yang mampu melaksanakannya. Betapa bahagianya dia dapat berjumpa dengan Orang yang telah menyembuhkanNya, yang memang adalah Seseorang yang berasal dari Allah.   Lalu orang itu sujud menyembah-Nya.

Berkat Kristus, sang anak Manusia, orang yang buta itu pun akhirnya bisa melihat. Dunia tidak lagi gelap bagi dirinya, dunia telah menjadi terang dan indah. Berkat Kristus pun, ‘kita yang  dahulu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan’, tegas santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Efesus (5: 8-9).  Maka baiklah kita nikmati terangNya yang diberikan kepada kita, karena dalam terangNya kita dapat menikmati dunia dengan indahnya. ‘Hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran’.

Secara khusus dalam Paskah kita bersama akan merayakan Terang Kristus, yang adalah Cahaya dunia. Kita nikmati terangNya, dan dengan tinggal dalam terangNya kita akan menjadi terang bagi sesama.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, kami percaya, bahwa melalui setiap peristiwa hidup kami, Engkau mau menyatakan kehadiranMu di dalamnya, dan biarlah kami yang telah mengalami kasihMu ini, dapat bersaksi dan menjadi terang bagi sesama, agar merekapun boleh mengalami kasih dan sukacita daripadaMu. Amin






Contemplatio :

‘Aku percayaMu, Tuhan!’.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening