Rabu Abu, Hari Pertama dalam Masa Prapaskah. 5 Maret 2014

Yoel 2: 12-18  +  2Kor 5:20 – 6:2  +  Mat 6: 1-6.16-18

                                                                                          

 

Lectio :

Suatu hari berkatalah Yesus kepada para muridNya: "ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

Apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

 

 

Meditatio :

‘Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga’. Penegasan Yesus ini sungguh-sungguh mengajak para muridNya, kita semua, agar tidak mencari kepuasan diri dengan menginginkan pujian dari sesama. Orang yang hanya mencari pujian dari sesamanya, dia tidak akan mendapatkan pujian dari Allah, karena memang dia tidak mencariNya; dia sudah puas dengan pujian dari orang yang berada di sekitarnya. Ia bangga karena teman-temannya memuji dan bangga atas kehebatan yang telah dilakukannya.

Apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya; tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.  Suatu penyataan agar kita memberikan sedekah tanpa diketahui oleh siapapun, bahkan apa yang dilakukan tangan kanan janganlah diketahui tangan kiri. Kerelaan dan kemurahan hati kiranya mengawali segala tindakan baik kita terhadap orang lain.

Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya; tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Kepada Siapa kita berdoa? Dari Siapa kita memohon bantuan untuk kehidupan kita ini?

Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.

Dalam kehidupan sekarang ini memang amatlah kuat keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Segala kebaikan dan kebajikan yang kita lakukan, tetapi bila tidak mendapatkan legitimasi dari sesama kita, dianggap kurang bermakna. Ada benarnya semuanya itu kiranya. Namun apakah harus kita jadikan prinsip utama dalam memberi sedekah, dalam berdoa dan dalam berpuasa? Apakah yang hendak kita cari dengan melakukan aneka kewajiban agama yang diberikan kepada kita?

Sejauhmana kita melakukan semua itu? Tak dapat disangkal memang keinginan kodrati diri untuk selalu mendapatkan perhatian dari orang lain yang ada di sekitar kita amatlah kuat. Kiranya baiklah kita kalau berani kembali mengarahkan diri kita hanya kepada Tuhan. Keberanian diri untuk kembali kepadaNya pasti akan mendatangkan berkat dan rahmatNya; dan itulah yang disampaikan Tuhan sendiri melalui nabi Yoel: ‘berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu’ (Yoel 2: 12-14). Inilah pertobatan hati, dan itulah yang dikehendaki oleh Yesus Kristus yang menjadi pendamaian bagi kita (1Kor 5). Melakukan segala kehendakNya mengundang belaskasih Tuhan.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami di masa pra paskah ini agar semakin mendalami arti berpuasa, berdoa dan sedekah sebagai sesuatu yang keluar dari hati yang tulus bukan untuk dilihat dan dipuji tetapi sungguh-sungguh mengarahkan hati kembali kepadaMu. Amin





Contemplatio :

'Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.'








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening