Sabtu Pekan Prapaskah III, 29 Maret 2014

Hos 6:  1-6  +  Mzm 51  +  Luk 18: 9-14

                                                                                          

 

 

Lectio :

Pada suatu kali kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:  "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.  Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;  aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.  Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

 

 

Meditatio :

Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus berkata:  ‘barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan’. Memang kecenderungan setiap orang untuk menyombongkan diri, ingin merasa diri unggul dari yang lain, malahan meremehkan dan merendahkan sesamanya. Namun mengapa orang begitu mudah ingin menyombongkan diri? Ada kebutuhan untuk diperhatikan, malahan semua orang harus memperhatikan diri saya, dan jangan kepada orang lain. Bukankah saya yang telah menaklukkan banyak hal yang baik, pantas dan layak mendapatkan perhatian dari banyak orang, tentunya dari Tuhan sendiri.

Kenyataan hidup mereka yang selalu memamerkan diri menjadikan Yesus membuat perumpamaan ini; kataNya: ‘ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.  Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;  aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.  Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini’.

‘Pemungut cukai ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah’.  Mengapa? Karena memang dia merundukkan diri, dan mengakui diri sebagai orang  yang berdosa, dan malah berani meminta ampun dari Allah. Tidak ada hal yang baik yang sempat dia lakukan, tetapi dia mengakuinya, dan kini datang kepada Allah memohon ampun kepadaNya. Dia adalah orang yang dibenarkan, karena mau mengakui kesalahan di hadapan sang Empunya kehidupan; sedangkan  ‘orang Farisi itu tidak dibenarkan’, karena dia merasa mampu melakukan segala sesuatu. Apa yang dikatakan orang Farisi itu menunjukkan bahwa tidak ada cinta dia terhadap sesamanya, dia ingin selamat seorang diri, dan dia merasa segala pekerjaan baiknya yang telah dilakukannya dapat memberi kepastian bahwa dia menikmati keselamatan ilahi kelak sebagaimana dijanjikanNya.

Orang yang menyombongkan diri dan meremehkan sesamanya adalah mereka yang tidak peduli terhadap sesamanya. Tidak ada kasih dalam hidup mereka. Mereka hanya mengandalkan segala kebaikan yang dapat mereka lakukan.  ‘Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran’ (Hos 6: 6). Kiranya penegasan Allah melalui nabi Hosea mengingatkan kita semua orang untuk berani ingat akan sesama dan berjuang bersama untuk mendapatkan keselamatan.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, berilah kami hati yang selalu terbuka untuk menerima rahmat dan melihat kasihMu, agar kami tidak menjadi sombong dengan apa yang dapat kami lakukan, sebaliknya kami mampu merundukkan diri di hadapanMu dan semakin siap mengasihi sesama dengan tulus hati. Amin






Contemplatio :

‘Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan’.

 

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening