Selasa dalam Pekan Biasa VIII, 4 Maret 2014


1Pet 1: 10-16  +  Mzm 98  +  Mrk 10: 28-31

                                                                                          

 

Lectio :

Suatu hari berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."


 

Meditatio :

‘Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!’,  sahut Petrus ketika Yesus menyatakan bahwa sukar sekali orang kaya memasuki Kerajaan Allah. Apakah Petrus menganggap diri orang kaya? Sepertinya dia memang orang kaya dan tidak berkekurangan, tetapi yang lebih lagi mendapatkan perhatian Petrus adalah bukan hanya harta benda yang ditinggalkannya, melainkan juga segala sesuatu dilepaskan dan ditinggalkan lalu mengikut sang Guru.

‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal’, sahut Yesus kepadanya. Dengan meninggalkan segala-galanya seseorang malahan akan semakin menerima segala-galanya secara berlimpah ruah, terlebih-lebih dia menerima Dia, sang Segala-galanya. Dia menerima Kehidupan yang sebenarnya. Bagaimana seseorang dapat meninggalkan segala-galanya? Apakah seseorang yang mengikutiNya harus menjadi sebatang kara dan hidup miskin?

Yesus tidak pernah meminta orang-orang yang mengikutiNya menjadi miskin melarat dan hidup tanpa komunikasi dengan keluarga. Tak dapat disangkal memang ada banyak orang yang menterjemahkan permintaan Yesus selurus mungkin, mereka meninggalkan segala-galanya dan menghayati hidup bakti dalam karya pewartaan dan social. Namun  ada lebih banyak lagi orang yang mampu mengutamakan Tuhan dalam segala kegiatan dan karyanya. Ada banyak kegiatan yang diikuti dan dikerjakan, mereka termasuk orang-orang yang sibuk dalam kesehariannya, tetapi hati dan budinya selalu terangkat ke surga dan melambungkan pujian tanpa harus mengkomat-kamitkan bibirnya. Mereka pandai membagi waktu, baik untuk kerja, untuk keluarga, untuk Gereja dan masyarakat, yakni mereka orang-orang yang ada di sekitarnya. Kesibukan kerja tidak membuat mereka berhenti melemparkan senyum kasih kepada orang-orang yang dijumpainya; ada kesempatan selalu bertegur sapa dan berbagi pengalaman dengan sesama. Perjumpaan dengan orang-orang seperti mereka, hati terasa damai dan penuh sukacita, karena memang mereka pun sepertinya selalu bernyanyi dalam hati: kulihat di wajahmu kemuliaan Tuhan, kukasihi engkau dengan kasih Tuhan.

‘Siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: kuduslah kamu, sebab Aku kudus’ (1Pet 1: 13-16). Itulah bahasa Petrus menasehati kita agar mengutamakan kehendak Allah selalu.

‘Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu’. Rendah hati dan tahu menempatkan diri adalah sikap orang-orang yang memang selalu meninggalkan segala-galanya untuk mendapatkan Segalanya.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami agar segala harta duniawi ini tidak mengikat kami, dan tidak menjadi penghalang bagi kami untuk mengutamakan Engkau, justru kiranya dengan segala kemampuan itu kami dapat gunakan dalam berbagi kasih terhadap sesama kami. Amin




Contemplatio :

'Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!'.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening