Selasa Masa Prapaskah II, 18 Maret 2014

Yes 1: 10-20  +  Mzm 50  +  Mat 23: 1-12

                                                                                          

 

 

Lectio :

Suatu hari Yesus berkata kepada para muridNya: ‘ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;  mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan’.

 

 


Meditatio :

‘Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa’, tegas Yesus kepada muridNya. Mereka menempati posisi sentral dalam sosio-religi. Mereka mempunyai kedudukan structural. Mereka harus dihormati dan dijunjung tinggi. ‘Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya’. Mereka itu orang-orang munafik dan mencari kemapanan diri.  Tidak segan-segan dan tanpa tahu malu,  ‘mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya’. Mereka tidak mau sengsara dalam hidup ini. Mereka bukannya melayani, melainkan dilayani.

‘Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang’, seperti  ‘memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang, suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat,  suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil rabi’. Mereka benar-benar orang yang haus akan pujian dan tepuk tangan dari sesamanya. Mereka itu adalah orang-orang yang gila hormat.

Sedangkan kamu,  ‘janganlah kamu disebut rabi; karena hanya satu Rabimu’, yakni Yesus, Kristus, sang Guru dari  Nazaret,  ‘dan kamu semua adalah saudara’. Dialah yang sulung, Putera kebangkitan.  ‘Janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga’.  Dialah sang Pencipta dunia dan segala isinya, dan hanya kepadaNyalah kita harus merundukkan diri. Dialah Bapa kita, karena memang kita semua adalah milikNya. Kita adalah anak-anakNya.  ‘Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias’. Sebab hanya Dialah yang mampu menjadi tebusan bagi seluruh umat manusia, malahan kita semua menikmati rahmat penebusan yang dilimpahkanNya.  Berkat kematian dan kebangkitanNya dari alam maut, kita semua beroleh keselamatan kekal.

Dalam kehidupan bersama, Yesus meminta kepada para muridNya, kita semua untuk selalu rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Dia meminta kita menjadi sesama bagi orang lain. ‘Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu’’  karena memang yang hebat adalah orang yang mempunyai aneka kemampuan, dan dia siap membagikannya kepada orang lain.  Orang yang menolong sebenarnya adalah orang yang lebih besar dari yang ditolong.

‘Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan’. Kiranya ucapan Yesus ini juga harus dikumandangkan sebagaimana gaya nabi Yesaya dalam menyampaikan pesan Allah. ‘Jika kamu melawan dan menolak ajakan Putera Manusia ini, kamu akan dimakan pedang’ (bdk Yes 1: 19). Berani kita menegaskan seperti ini kepada sesama kita?

 


 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, kiranya kami semakin mengerti akan kehendakMu, dan hidupkanlah selalu semangat rendah hati serta pertobatan sejati dalam diri kami di masa Prapaskah ini,  agar semakin hari semakin mampu untuk melayani sesama dengan tulus dan rendah hati. Amin






Contemplatio :

'Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening