Selasa Pekan Prapaskah IV, 1 April 2014


Yeh 47:  1-12  +  Mzm 46  +  Yoh 5: 1-16

                                                                                          

 

 

Lectio :

Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem.  Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya  dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu.  Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya.

Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.  Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?"  Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."  Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah."  Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan.

Hari itu hari Sabat.  Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: "Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu."  Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah."  Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?"  Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu.  Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."  Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia.  Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.

 

 

Meditatio :

‘Maukah engkau sembuh?, tanya Yesus kepada orang  yang sudah sakit tiga puluh delapan tahun lamanya.  ‘Tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu,  apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku’, sahut orang itu.  Kenapa tidak ada seorang pun yang membantu dia? Sebatang karakah dia? Di mana teman-teman dia yang tinggal satu kampung dengannya? Tidak adakah seorang PMI yang bertugas di sana? Tidak adakah juga orang Samaria yang lewat tempat itu?

‘Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah’, kata Yesus kepada orang lumpuh itu.  Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Orang itu tidak berkata-kata sedikit pun dan langsung pergi. Tiada kata-kata terima kasih, apalagi sembah sujud kepadaNya. Apakah dia satu kelas dengan kesembilan orang kusta yang pernah disembuhkan juga oleh Yesus? Dia tidak mau tahu dengan Dia yang telah memberikan sesuatu yang indah, luhur dan mulia.

‘Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu’, tegur orang-orang Farisi kepada orang yang baru disembuhkan itu. ‘Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: angkatlah tilammu dan berjalanlah’, sahut orang itu dengan seenaknya saja. Dia tidak menyinggung sedikit pun rahmat kesembuhan yang diterimanya. Dia hanya mempersoalkan ada seseorang yang menyuruh dirinya mengangkat tilam; dan dia tidak tahu siapa Seseorang yang telah menyuruhnya, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu.

Inilah keunggulan dan kehebatan Yesus, Tuhan kita yang begitu sabar dan murah hati. Hati Yesus memang hati Allah yang kudus. Pertama, orang yang disembuhkan itu adalah orang berdosa. Dia bukan orang yang baik.  ‘Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk’. Keberdosaan seseorang tidak menghalangi kasih Tuhan Allah kepada umatNya. Dia menurunkan hujan, bukan hanya kepada orang-orang yang baik dan benar, tetapi juga bagi orang jahat dan berdosa. Kedua, Yesus tidak menuntut umatNya untuk berterima kasih bila Dia menyampaikan rahmat dan kasihNya. Sembari mengangkat tilamnya dan langsung pergi meninggalkan Yesus, yang dilakukan orang lumpuh tadi, dibiarkan begitu saja oleh Yesus. Padahal bila mau terus mengikuti kehendak Allah, dia akan semakin menikmati berkat rahmatNya yang melimpah, tak ubahnya air yang mengalir dari dalam pelataran bait Allah sebagaimana digambarkan oleh Yehezkiel dalam kitabnya (bab 47), sebab memang kehidupan itu berasal dari sang Sumber kehidupan itu sendiri, yakni Allah.

Inilah kelemahan dan kekurangan orang lumpuh itu. Dia sungguh-sungguh sebatas mempunyai hati insani, yang tak jarang dari dalam hatilah muncul aneka kejahatan yang menajiskan manusia (Mat 15: 19). Ketika untuk kedua kalinya berjumpa dengan Yesus, orang itu pun tidak berucapkan terima kasih kepadaNya; malahan setelah perjumpaannya itu, dia  menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. Dia sepertinya tidak berkata-kata tentang rasa syukur, sebaliknya hanya mengatakan bahwa Dia yang telah menyembuhkan itu adalah Yesus, Orang Nazaret. Sepertinya dia tidak mau dituduh sebagai orang yang melanggar aturan hati Sabat, dia memang ingin bebas dari tanggungjawab hidupnya.  

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, mampukanlah kami untuk semakin peka dalam menyadari kehadiranMu di setiap peristiwa hidup kami, serta senantiasa bersyukur atas segala rahmat kasih yang Kau limpahkan kepada kami, sehingga ungkapan syukur dalam karya dapat dinikmati orang-orang di sekeliling kami. Amin





Contemplatio :

‘Maukah engkau sembuh?’







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening