Senin Masa Prapaskah II

17 Maret 2014

Dan 9: 4-10  +  Mzm 79  +  Luk 6: 36-38

                                                                                          

 

 

Lectio :

Suatu hari Yesus berkata kepda para muridNya: ‘hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu’.

 

 

Meditatio :

‘Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati’, tegas Yesus. Yesus meminta para muridNya, kita semua, bersikap dan bertindak seperti Bapa, karena kita mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk bersikap seperti Dia, walau dengan tidak mengandalkan kekuatan insani belaka. Kemampuan kita manusia akan disempurnakan dan dipenuhi oleh anugerah dan rahmatNya. Kita semua dimintai menjadi orang-orang yang murah hati, karena memang Dia melakukan segala kebaikan , bukan berdasar kemampuan dan jasa umatNya, orang-orang yang dikasihiNya, melainkan karena kasihNya sendiri. Dia menurunkan hujan bagi seluruh umat manusia, dan bukannya bagi mereka orang-orang yang rajin berdoa; demikian juga memberikan cahaya matahari, bagi seluruh manusia, tanpa terkecuali.

Kemurahan hati seperti itulah yang diminta Yesus agar kita lakukan bersama, minimal dengan tidak ‘menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi’, tidak ‘menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum’,  berani  mengampuni sesama, agar kamu akan diampuni’, dan kreatif  ‘memberi, agar kamu akan diberi’. Benar juga yang dinyatakan Tobit dari semula, yakni:  ‘apa yang tidak kausukai sendiri, janganlah kauperbuat kepada siapapun’  (Tob 4: 15). Mungkin dan sepertinya ada nada pamrihnya, tetapi sekali lagi hendaknya kita tidak mudah mencari kesalahan sesama, kita diminta untuk kreatif dalam mengawali berbuat baik, dan bukan sekedar sikap dan tindakan reaktif.  Sepertinya Yesus memberikan ukuran terendah bagi setiap orang untuk berani mengawali berbuat baik kepada sesamanya.

Sebab jujur saja dalam pergaulan bersama,  ‘suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan selalu, ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu’. Keberanian untuk mengawali berbuat baik kepada sesama akan mengkondisikan setiap orang untuk selalu berani berbagi dengan sesama. Sikap kreatif adalah menyuburkan benih-benih kemurahan hati yang memang telah tertanam semenjak semula, sifat kodrati manusia, tetapi sebaliknya sikap reaktif adalah wujud ketertutupan diri seseorang pribadi dalam pergaulan dengan sesama.

Yesus mengajak kita mendahului dalam berbuat baik, karena memang kita dikondisikan selalu bersikap murah hati. Daniel dalam kitab kehidupannya mengingatkan dan mengajak kita untuk merenungkan bahwasannya ketidaktaatan kita kepada orang-orang mewartakan sabda dan kehendak Allah, yakni para nabi dan para kudus adalah sebuah sikap yang kurang terpuji, dan hendaknya kita memohon agar Tuhan mengampuni dan menurunkan belaskasihNya (Dan 9: 4-10). Sebab semuanya itu dilihatnya sebagai perlawanan terhadap Dia yang telah mengutus mereka untuk mewartakan sabda dan kehendakNya (Mat 21: 34-36).

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, semoga kami semakin bijaksana dalam memakai ukuran terhadap sesama, memakai ukuran yang serendah-rendahnya dalam menghakimi dan ukuran yang setinggi-tingginya dalam memberi. Agar kami mampu berbuat baik terlebih dahulu tanpa membedakan satu sama lain.  Amin






Contemplatio :

'Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan juga kepadamu’.

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening