Hari Minggu Palma dalam Pekan Suci, 13 April 2014


Yes 50: 4-7  +  Fil 2: 6-11  +  Mat 27: 11-54

 

 

 

 

Lectio :

 

Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.  Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,  supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,  dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

 

 

 

 

Meditatio :

 

'Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia'. Yesus serupa dengan Allah, karena memang Dia adalah Allah yang menjadi Manusia. Dia tidak menampilkan Diri sebagai Allah yang penuh kuasa dan menggetarkan hati banyak orang, sehingga enggan dan takut berhadapan dengan sang Empunya kehidupan itu. Dia tidak tampil sebagai seorang Penguasa ataupun pejabat, yang seringkali minta dihormati dan penuh acara protokoler. Yesus bukan saja blusukan di tengah-tengah umatNya, malahan menjadi seorang hamba manusia, yang melayani dan melayani, dan bukan dilayani.

 

'Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib'. Peristiwa yang amat pahit dan tragis diterimanya dengan penuh keberanian. Semua dilakukannNya, bukan atas kemauannya sendiri, melainkan karena   kehendak Bapa yang mengutusNya. Yesus bisa mengatakan 'biarlah cawan ini berlalu', tetapi tidak diteruskanNya, malahan dengan tegas Dia mengatakan 'tetapi bukan karena kehendakKu, melainkan karena kehendakMu Bapa'. Semuanya ini sepertinya ditirukan oleh Maria sang ibu ketika menerima kabar sukacita yang tidak dimengertinya itu 'aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu'. 

 

Kisah sengsara sungguh-sungguh menegaskan bahwa Yesus berani menerima risiko tugas perutusanNya itu dengan penuh syukur, dan bukannya dengan terpaksa atau berpura-pura menderita, sebab dengan peristiwa salib Dia benar-benar masuk dalam dunia yang paling pahit dalam hidup manusia, yakni menderita karena deraan sesama manusia, dan Dia pun disamakan dengan kaum penjahat, yang pantas dihukum mati di salib. Dia mau menerima semuanya itu, karena cinta kasihNya kepada umat manusia.

 

'Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,  supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi'. Yang sebetulnya, bukanlah hal yang baru bila semuanya ini terlaksana, karena memang semenjak semula Allah telah menciptakan segala sesuatu dalam SabdaNya, dan SabdaNya itulah yang kini memberikan diri menjadi tebusan bagi umat manusia. 


          Hanya dalam nama Yesus ada keselamatan, hanya dalam Dia ada kehidupan, karena memang Dia adalah Allah. Penyebutan nama Yesus mendapatkan penegasan, karena memang nama itu sendiri berarti Allah Menyelamatkan. Maka layaklah, kalau dengan penyebutan itu 'segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah, Bapa'.

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, mampukanlah agar dalam sikap hidup kami bukan menampilkan kemampuan dan kemauan kami, tapi sungguh mau menyatakan kasihMu yang hadir dalam sikap hidup dan tindakan kami terhadap sesama yang membutuhkan kami.  Amin



 

Cotemplatio :

 

‘Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia’.

 

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening