Hari Raya Jumat Agung

Perayaan Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus

18 April 2014

Yes 52:13 – 53:12  +  Ibr 4: 14-14; 5: 7-9  +  Yoh 18:1 - 19:42

 

 

 

 

Lectio :

Kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.  Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.  Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.  Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.  Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,  dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,

 

 

Meditatio :

Kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.  Inilah ucapan bangga seorang Ibrani akan Yesus Kristus, Seorang Imam Agung yang sungguh-sungguh hebat dan luar biasa. Dia tidak hanya mempunyai kemampuan insani, tetapi sebaliknya kemampuan dan pengetahun illahi, yang telah melintasi semua langit. Yesus Kristus,  Imam Besar yang kita punya,sungguh hebat luar biasa, sebab Dia bukanlah Imam Besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.  Yesus sadar bahwa Dia dipilih, dan bukannya  nabi-nabi yang lain, bukan menjadi seorang penguasa di dunia ini, bukan juga menduduki kursi raja Daud, bapa leluhurnya, bukanlah pula menduduki kursi Musa sebagaimana dinikmati banyak orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, bahkan  'walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan'.  Yesus sungguh sadar bahwa Dia dipilih untuk melayani,  bahkan 'Dia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.  Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib' (Fil 2: 6-8). Dia  datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.

Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya. Sekalipun orang-orang yang dikasihiNya berteriak-teriak: 'enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!', sebagaimana diceritakan dalam Kisah SengsaraNya, Yesus hanya berdiam diri, tidak berkata-kata dan tidak melawan mereka.  Dengan jujur pula Yesus berkata: 'Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini'; yang memang semuanya ini dikatakan bukan untuk memamerkan diri, melainkan sebaliknya Yesus menyatakan  bahwa diriNya benar-benar  Raja yang rela dan taat kepada Bapa yang mengutusNya. Kematian di kayu salib adalah tujuan sang Mesias datang ke dunia yang memang disadariNya semenjak semula, bahka kepada para muridNya, Yesus pun mengajak agar setiap orang untuk berani memanggul Salib kehidupan masing-masing. Maka  sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,

Kalau dalam pembasuhan kaki para muridNya, Yesus menegaskan  jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku (Yoh 13), hanya dalam kasihNya setiap orang beroleh selamat, maka  hari ini orang Ibrani mengajak kita: 'marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya'.  Orang Ibrani ini mengajak kita untuk menikmati kasihNya yang menyelamatkan itu, sebab memang Yesus semenjak semula menghendaki agar setiap orang beroleh selamat, orang-orang berdosa pun tidak dibiarkan binasa, melainkan didatangi dan diajakNya kembali kepada takhta Allah. Benarlah kalau di kayu salib Dia berteirak 'Aku haus', bukan saja karena raga sang Guru yang lelah menginginkan  seteguk air, melainkan karena jiwa Kristus yuang rindu akan kasih umatNya untuk menikmati Kasih yang dilimpahkan kepada umatNya. Kehausan Yesus adalah kerinduan Kasih akan kasih-kasihNya yang menginginkan keselamatan Allah.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, karena kasihMu yang begitu besar kepada kami, Engkau rela disalib demi keselamatan kami, kami bersyukur atas rahmat kasihMu ini; kiranya kamipun semakin hari semakin tergerak untuk mengasihi Engkau dan sesama. Amin

 

 

Contemplatio :

'Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,  dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya'.

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening