Senin Pekan Prapaskah V, 7 April 2014

Dan 13:  41-62  +  Mzm 23  +  Yoh 8: 1-11

                                                                                          

  

Lectio :

Suatu hari pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.  Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"  Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.  Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."  Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.  Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.  Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"  Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

 

 

Meditatio :

‘Guru, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.  Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?’, kata orang-orang Farisi dan para ahli Taurat kepada Yesus untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Yesus yang tahu isi hati dan budi mereka diam saja dan tidak menggubrisnya, malahan Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.  

Mencobai dan mencobai untuk mencari kesalahan Yesus sepertinya menjadi keseharian mereka, maka ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: ‘barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu’. Suatu jawaban yang tidak umum, tetapi amat mudah dimengerti, bahkan memberi kesempatan seluas-luasnya bagi setiap orang untuk menghukum si perempuan itu.  Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.  Yesus tidak melarang mereka menghukum perempuan itu, malahan Yesus meminta mereka bertindak tertib bila hendak melempari batu perempuan itu.

Setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Penyataan Yesus yang amat halus itu sungguh-sungguh mengena pada diri mereka. Dengan semakin panjangnya usia sepertinya kesempatan untuk berdosa dan melawan kehendak Tuhan semakin terbuka lebar, tetapi sebenarnya tidak juga harus terjadi bila dalam setiap langkap hidup, seseorang selalu berani mengutamakan kehadiran Dia yang mengatasi hidup ini.

Hanya Yesus seorang diri pun juga tidak mau melempari perempuan berdosa itu, karena memang Dia adalah Allah yang penuh belaskasih dan Maharahim. ‘Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang’. Kata Yesus kepada perempuan itu. Tuhan Allah adalah sang Empunya hidup ini, dan Dialah sang Pencipta segala, Dia punya hak untuk menghukum semua ciptaanNya, tetapi semuanya tidak dilakukan, malahan sebaliknya orang yang bertobat dan datang kepadaNya, diterima dengan tangan terbuka dan penuh sukacita; dan memang ‘akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan’  (Luk 15: 7).

Pertobatan adalah situasi yang dikehendaki Tuhan Bapa di surga. Tidak suka mendengar orang yang berbicara tidak benar, malahan berani menegur orang yang suka sembarang berbicara, sebagaimana dilakukan Daniel (Dan 13) adalah sebuah sikap dan tindakan yang memungkinkan banyak orang untuk bertobat dan bertobat dan wujud dari kasih sendiri yang menutupi segala sesuatu (1Kor 13).

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, berilah kami rahmat kekuatan untuk memaafkan, dan terlebih lagi tidak gampang untuk menghakimi sesama yang berbuat kesalahan, malahan semakin hari kami semakin berani belajar dari Engkau untuk dapat menerima mereka dengan tangan terbuka dan penuh sukacita. Amin





Contemplatio :

'Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.'








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening