Jumat dalam pekan Paskah II, 2 Mei 2014


Kis 5: 34-42  +  Mzm 27  +  Yoh 6: 1-15

                                                                           

 

 

Lectio :

Suatu hari Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias.  Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya.  Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?"  Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.  Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja."  Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya:  "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?"  Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. 

Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.  Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang."  Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. 

Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia."  Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

 

 

Meditatio :

Suatu hari Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias.  Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Mereka mengikuti bukan karena sabdaNya, melainkan karena aneka mukjizat yang dibuatNya. Sampai sekarang pun banyak orang mengikuti Yesus dengan alasan yang sama; bukan karena sabdaNya, apalagi karena salibNya yang secara sengaja setiap orang diminta untuk setia memanggulnya.

Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya.  Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: 'di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?'.  Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.  Apakah Yesus mencobai muridNya dimaksudkan untuk menjerat mereka, sebagaimana dilakukan orang-orang Farisi? Tentunya tidak! Apakah Filipus tidak merasa kalau dia sedang mendapatkan testing dari sang Guru sejauh mana pengenalan dirinya kepadaNya? Jawab Filipus lurus-lurus kepada-Nya: 'roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja'. Ternyata Filipus tidak mengerti tentang testing  yang diberikan oleh sang Guru. Filipus belum mengenal sepenuhnya Siapakah Orang dari Nazaret ini.  Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya:  'di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?'. Ternyata Andreas demikian juga, dia belum mengenal sang Guru yang mereka ikuti itu. Pengenalan mereka semua sebatas apa yang pernah dilakukanNya, mereka belum mampu memandang Dia dalam segala kemuliaan dan keagungan Allah yang dimilikiNya.  Kata Yesus: 'suruhlah orang-orang itu duduk'.  Adapun di tempat itu banyak rumput; maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Kasihan juga anak-anak dan kaum perempuan tidak masuk perhitungan. Injil adalah cerita tentang Allah, tetapi tidak mampu mengubah kenyataan masyarakat yang begitu paternalis: hanya laki-laki yag diperhitungkan .

Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Yesus mempergandakan roti dan ikan yang mereka miliki. Bagaimana proses terjadiNya pergandaan itu tidaklah tampak, tetapi tak dapat disangkal semuanya itu terjadi dalam tangan Dia sang Empunya kehidupan yang murah hati. Dan setelah mereka kenyang Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: 'kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang'.  Membuang makanan tidak ubahnya membuang berkat dan kebaikan Tuhan.  Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Yesus mampu membuat segalanya secara berlimpah-limpah. Dia tahu apa yang menjadi kebutuhan umatNya. Roti dan ikan yang hanya beberapa potong dapat dinikmati banyak orang secara berkelimpahan, karena ada dalam tangan yang penuh belaskasih. Dalam tanganNya ada keindahan dan kelimpahan.  

Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: 'Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia'.  Segala yang baik dan indah itu berasal dari Allah (Yak 1: 17), karena memang Yesus datang dari atas, dari Surga, di mana Allah Bapa sendiri yang mengutusNya. Amatlah baik kalau kita selalu berani mengarahkan perhatian kita pada perkara-perkara di atas (Kol 3: 2).

'Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri'. Maksud baik kita manusia memang tak jarang tidak sesuai dengan kehendakNya, karena memang maksud baik kita bertolak dan selalu terarah pada diri sendiri, dan bukannya kepada sesama kita. Kepuasan diri yang menjadi ukuran. Itulah yang terjadi dengan Yesus yang segera menghindar dan kemauan banyak orang, karena memang Dia hanya melaksanakan kehendak Dia yang mengutusNya. Dia datang bukannya untuk mencari pengakuan diri yang terarah pada diriNya sendiri, melainkan sebuah pengakuan diri bahwa Allah datang untuk menyelamatkan umat manusia. Segala yang baik dan indah adanya terlaksana dalam Dia.

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami untuk senantiasa bersyukur atas apa yang kami miliki, serta mempunyai kepedulian dan mau berbagi dengan tulus kepada sesama yang membutuhkannya.

Yesus, berkatilah kami selalu.

Santo Atanasius, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio :

'Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki'.

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening