Pesta Maria mengunjungi Elizabet

31 Mei 2014

Rom 12: 9-16  +  Mzm +  Luk 1: 39-45

 

 

 

Lectio :

 

Beberapa waktu kemudian setedlah mendapatkan kabar sukacita berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus,  lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.  Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?  Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."

 

 

 

Meditatio:

Beberapa waktu kemudian setelah mendapatkan kabar sukacita berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Seberapa jauh perjalanan itu tidak ada keterangan sedikit pun; demikian juga, apakah Maria berjalan seorang diri, tanpa seorang teman pada saat itu. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Apakah pada waktu itu Zakharia tidak ada di rumah, sehingga dia hanya memberi salam hanya kepada Elizabet? Kalau dalam pergandaan roti yang diperhitungkan adalah jumlah 5000 laki-laki, sedangkan dalam kunjungan ini, malah hanya Elisabet, perempuan yang sudah berusia yang mendapatkan perhatian.

Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus.  Elizabet merasakan sukacita dan damai ketika mendapatkan kunjungan seorang perawan muda, Maria, dan terlebih anak yang ada dalam kandungannya melonjak kegirangan. Perjumpaan dengan Maria dirasakan semakin memenuhi apa yang terjadi pada diri Elizabet selama ini. Kehadiran Allah dalam RohNya semakin dirasakannya. Elizabet mengalami dan menikmati kehadiran Roh Kudus, karena memang  pada saat itu dia berjumpa dengan sang Tuhan Allah sendiri yang hadir dalam diri perempuan muda itu;  bukan hanya Elizabet, malah juga anak yang ada dalam rahimnya pun mengalami sukacita ilahi.

'Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu', sambut Elizabet dengan penuh sukacita. Elizabet merasakan kehadiran seorang tamu yang luar biasa, seorang perempuan yang terberkati, dan terlebih kehadiran Allah sendiri, yang secara inderawi telah hadir dalam hati dan rahim perempuan muda ini. 'Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?'. Maria bukanlah perempuan sembarangan. Dia adalah ibu Tuhan!  Kunjungan Maria membuat hidup Elizabet semakin terasa membahagiakan;  membuat hidup semakin hidup. 'Anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan'. Elizabet mempunyai teman dalam meluapkan sukacitanya itu. Dia tidak sendirian. Elizabet bergembira bersama dengan sang buah hatinya.

'Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana'. Eliazabet yakin dan bangga terhadap perempuan muda yang mengunjungi dirinya. Dia muda dalam usia, tetapi berpengalaman dalam mengenal Allah.

 

 

Collatio :

Beberapa waktu kemudian setelah mendapatkan kabar sukacita berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Secara insani tak dapat disangkal, Maria mengunjugi Elizabet, karena dia ingin bergembira dengan saudarinya yang ternyata telah berbadan dua. Bagaimana Maria tidak ikut bergembira, bila ibu yang memang tidak mempunyai anak ini, dikatakan telah mengandung seorang anak laki-laki? Maria baru tahu setelah mendapatkan kabar dari malaikat.  'Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu' (ay 36). Pengenalan akan sabda dan kehendak Tuhan membuat seseorang lebih mengenal sesamanya. Bukankah semua manusia adalah milik Allah? Maka  pengenalan akan Allah secara mendalam memungkinkan setiap orang, kita semua, semakin mengenal dan mengasihi sesama kita.

Kabar sukacita yang diterima Maria semakin mengakrabkan kekerabatan atau persaudaraan antara Maria dan Elizabet. Maria, yang mungkin sebelumnya tidak mengetahui banyak apa yang terjadi dengan saudarinya ini, kini dia mengetahui dengan baik apa yang telah terjadi dengan saudarinya itu. Kabar sukacita membuat Maria mau pergi mengunjungi Elizabet, walau jarak domisili mereka amat berjauhan. Bentangan jarak yang begitu jauh seringkali merenggangkan relasi dan persaudaraan dua pribadi, tetapi tidaklah demikian dengan sabda Tuhan yang menghidupkan. Kabar sukacita menghangatkan kembali dan memperbaharui persaudaraan yang telah terjalin selama ini.

'Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.  Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?',  seru Elizabet kepada Maria. Sebuah seruan yang sungguh mengangumkan. Elizabet, yang sudah berusia dan kaya dalam pengalaman, berani merunduk dan mengakui seorang perempuan muda yang datang mengunjunginya. Kerendahan hati seorang Elizabet benar-benar patut dibanggakan; dia tidak memandang rendah keluguan dan kepolosan gadis muda, yang memang tidak beda tipis lagi usianya dengan dirinya. Elizabet malah dengan jujur mengakui bahwa Maria adalah ibu Tuhan datang mengunjungi dirinya. Persaudaraan Maria dan Elizabet sungguh-sungguh diperbaharui. Ikatan keluarga mendapatkan tempat baru dalam diri mereka; kedua-duanya, Maria dan Elizabet, ada bersama Tuhan, karena memang Tuhan ada di dalam diri mereka. Maria yang semenjak menerima kabar sukacita itu telah  dipenuhi Roh Kudus, sebab 'Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau' (Luk 1: 35), kini Elizabet pun  dipenuhi oleh Roh KudusNya ketika mendengarkan sapaan Maria. Persaudaraan Maria dan Elizabet diperbaharui dalam Roh Kudus.

Maria dalam perjalanan hidupnya akhirnya menjadi ibu pemersatu bagi para murid Yesus. Maria menjadi pengikat persaudaraan yang selama ini telah dikomandani oleh Yesus sendiri. Penyataan Yesus kepada Maria: 'inilah anakmu',  dan kepada Yohanes: 'inilah ibumu'  (Yoh 19),  membuat persaudaraan para murid semakin merasakan adanya kasih seorang ibu di antara mereka. Para murid yang secara insani ditinggalkan oleh sang Guru, saat itu mendapatkan seorang ibu yang menyatukan mereka. Para murid diminta untuk berani belajar dari sang ibu; sekaligus Yesus meminta Maria mendampingi dan menyertai komunitas Kristen perdana itu dengan kasih yang menghidupkan. Dan tak dapat disangkal, para murid pun memang selalu 'bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus'  (Kis 1: 14).

Kiranya kita harus berani belajar bersama Maria dalam memperbaharui persaudaraan kita dengan sesama  'Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.  Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.  Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!  Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!  Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!' (Rom 12).

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami agar mampu meneladani Maria, yang begitu rendah hati untuk menyapa terlebih dahulu pada saudara-saudara di sekitar kami, dan kamipun boleh menjadi pembawa kabar sukacita di manapun kami berada.

Bunda Maria, doakanlah kami. Amin

 

 

Contemplatio :

'Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?'






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening