Hari Raya Pentakosta

8 Juni 2014

Kis 2: 1-11  +  1Kor 12: 3-13  +  Yoh 20: 19-23

 

 

 

Lectio :

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"  Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.  Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."  Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.  Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada".

 

 

 

Meditatio:

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi.  Sungguh wajar alasan mereka itu untuk menutup pintu rapat-rapat, bahkan terkunci. Mereka yang selama ini merasakan perlindungan dan penjagaan dari sang Guru, kini merasa ditinggalkan dan sendirian. Ketakutan, kecemasan, kesedihan dan dukacita memang memasukkan banyak orang dalam keterkurungn social.

Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: 'damai sejahtera bagi kamu!'. Yesus datang di tengah-tengah kesedihan dan ketakutan. Paskah Yesus membebaskan sekat-sekat yang dibuat oleh manusia. Itulah yang terungkap dengan masukNya Yesus tanpa adanya halangan pintu-pintu yang membatasi para muridNya.  Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Mengapa Yesus tidak menunjukkan luka pada kakiNya? Juga bekas tusukan mahkota duri yang pernah dikenakan kepadaNya sebagai Raja Israel? Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Dia ternyata hidup, dan ada di tengah-tengah mereka. Paskah memberikan kehidupan.

'Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu', kata Yesus kepada mereka. Salam damai diucapkanNya sampai dua kali, karena memang kehadiran Tuhan selalu membawa damai bagi umatNya, demikian tentunya kehadiran orang-orang yang percaya kepadaNya.  Orang yang percaya kepada Tuhan itu adalah dia yang selalu membiarkan Tuhan tinggal di dalam hatinya, dan itu pun bisa dirasakan oleh orang-orang yang berjumpa dengannya. Hal itulah yang dialami Maria, dan Elizabet yang mendapatkan kunjungan dari Maria. Semuanya damai adanya.  'Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu'. Membawa damai adalah kewajiban bagi setiap orang yang percaya kepada TuhanYesus, karena memang itulah yang dilakukan Yesus, dan itulah yang diminta Yesus kepada orang-orang yang dipanggil dan diutusNya.

Sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: 'terimalah Roh Kudus.  Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada'. Apakah penerimaan Roh Kudus berkaitan dengan pengampunan dosa? Tidak salah. Bagi mereka yang ambil bagian dalam karya pelayanan bersama para murid secara rahmat sacramental diberikan kepada mereka dan mereka diminta membagikannya kepada orang-orang yang mau bertobat dan merindukan keselamatan daripadaNya. Sakramen tobat adalah kehendak Tuhan Allah sendiri yang disampaikan melalui GerejaNya yang kudus bagi semua orang yang percaya kepadaNya.

Rahmat yang satu dan sama itu juga diterima oleh setiap orang, dan 'sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu' untuk membagikan rahmat yang luhur dan mulia itu. Jiwa pemaaf dan pengampun adalah tanda orang-orang yang menerima kehadiran Roh Kristus, Roh Allah yang Kudus dalam dirinya, dan bahkan membiarkan Roh Kudus itu menjelma dalam hati dan budinya. Peristiwa Pentakosta yang terus-menerus kita rayakan dalam hidup menggereja, bukanlah sekedar peristiwa turunNya Roh Kudus sebagaimana dikenangkan oleh Lukas dalam Kisah para Rasul, tetapi lebih sebagai pemberian Roh Kristus sendiri, yang dikonkritkan Yesus dengan menghembusi para muridNya, agar RohNya tinggal dalam diri mereka. Sebagaimana Allah menjadi Manusia, demikian Roh Kudus menjadi roh, jiwa dalam hidup setiap orang.

Dalam relasi social, jiwa pengampun mengkondisikan seseorang hidup berdamai dengan sesamanya. Sebab bagaimana seseorang dapat berbagi damai dengan sesamanya kalau dia tidak mempunyai jiwa pengampun; bagaimana rasa damai bisa dinikmati setiap orang bila masing-masing pribadi tidak mau memahami keberadaan sesamanya? Sebagaimana Roh yang satu dan sama menggerakkan kehidupan ini, demikian orang-orang yang benar-benar dibimbing oleh Roh Allah yang hidup berani menerima keberadaan sesama dan mengakui bahwa mereka, orang lain, menerima kasih karuniaNya yang berbeda dengan dirinya (1Kor 12), yang memang semuanya itu dilimpahkan guna membangun dan menyatukan GerejaNya yang kudus.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur untuk Roh Kudus yang Kau kirimkan untuk mendampingi kami. Kiranya kehadiran Roh Kudus ini memampukan kami untuk hidup berdamai dengan sesama, dan menjadi pembawa berkat dan sukacita bagi setiap orang yang kami jumpai. Amin

 

 

Contemplatio :

'Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening