Kamis dalam Pekan Biasa X

12 Juni 2014


1Raj 18: 41-46  +  Mzm   +  Mat 5: 20-26


 

 

 

Lectio :

Bersabdalah Yesus: 'Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.  Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,  tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.  Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'.

 

 

 

Meditatio:

'Aku berkata kepadamu: jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga'. Permintaan Yesus yang disampaikan amatlah sulit, terlebih bila dibandingkan dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang memang mempunyai kedudukan sosio-religi amat tinggi pada waktu itu. Yesus membandingkan sebuah permintaan bukannya dengan ukuran standart, melainkan dengan ukuran yang paling tinggi yang bisa dilakukan oleh mereka yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat. Atau memang Yesus sengaja membandingkan mereka dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, karena mereka tidak lagi memberikan yang terbaik sebagaimana yang harus memang mereka berikan.

'Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum, tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala'. Membunuh adalah sebuah tindakan lanjut yang diawali oleh tindakan-tindakan sebelumnya, seperti marah dan iri hati. Sebelum tindakan membunuh dilakukan, setiap orang harus berani mencabut akar dosa yang lebih berat itu yakni kemarahan. Sekecil apapun dosa seseorang layaklah kalau dia mendapatkan teguran dan hukuman agar dia semakin mampu berkajang dalam kebaikan di dalam Allah.

'Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,  tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.  Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.  Aku berkata kepadamu: sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas'. Persembahan hati memang lebih penting daripada persembahan kurban bakaran sebagaimana menjadi bentuk ritual yang seringkali dilakukan oleh orang-orang sejaman dengan Yesus. Aneka persembahan adalah tindakan simbolis, yang kiranya harus dilandasi oleh persembahan hati dari setiap orang. Maka kiranya suasana hati yang damai dan rela akan semakin mengkondisikan persembahan seseorang dilambungkan kepada Tuhan dengan penuh pengharapan dan sukacita.

Dosa besar memang tidak lahir secara mendadak, malah sebaliknya kebiasaan membiarkan dosa kecil dengan suburnya tumbuh dalam diri kita akan menjadi dosa besar, yang mengancam keselamatan jiwa. Kepekaan dan ketajaman jiwa dalam persoalan hidup sehari-hari memang amat memungkinkan seseorang menikmati sukacita dalam hidupnya, dan dia bebas dari ancaman yang menggoyangkan keselamatan jiwa. Jiwa yang terjamin mendapatkan keselamatan kekal berkat sakramen baptis tidak akan tergoncangkan karena keterpautan hati untuk selalu mendengarkan suara hati, tempat kehadiran Tuhan sendiri.

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, mampukan kami untuk berani lebih dahulu mengampuni mereka yang bersalah kepada kami, agar hati kami tidak menjadi ladang yang subur bagi akar dosa, tetapi sebaliknya kedamaian  di hati membuat kami boleh melambungkan persembahan yang penuh sukacita dan pengharapan kepadaMu. Amin

 

 

Contemplatio :

'Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,  tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening