Kamis dalam Pekan Biasa XII

25 Juni 2014

2Raj 24: 8-17  +  Mzm 79  +  Mat 7: 21-29

 

 

 

Lectio :

Suatu hari bersabdalah Yesus kepada para muridNya:  'bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.  Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?  Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.  Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya'.

Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya,  sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

 

 

Meditatio :

'Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga'. Penegasan Yesus benar-benar menyatakan betapa besar makna sabda dan kehendak Tuhan Allah sang Empunya kehidupan ini. Bukan yang kita berikan kepadaNya, yang menentukan hidup kita, melainkan segala yang kita terima dari padaNya; bukan pula perbagai anugerahNya, tetapi terlebih kehendak Dia yang menyelamatkan umatNya. Ataupun segala yang kita kerjakan atas nama Tuhan, tidak memberi jaminan kita layak dan berkenan kepadaNya, walau  kita menggunakan segala karunia yang kita terima daripadaNya, bila memang kita tidak melaksanakan kehendakNya. Memang 'pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga, tetapi  pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!'. Orang yang melakukan kebaikan memang bisa dan sekaligus melakukan juga segala yang jahat, tetapi tidaklah demikian mereka yang melakukan kehendak Tuhan. Sebab kehendakNya selalu berlawanan dengan segala yang jahat. Segala keinginan Roh selalu bertentangan dengan keinginan daging (Gal 5).

'Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.  Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya'. Penyataan Yesus hendak juga menegaskan bahwa kemauan seseorang melakukan kehendak Tuhan, bukan saja membuat dia layak di hadapanNya yang kudus, melainkan juga memberi jaminan kepadanya untuk hidup lebih baik dan mampu menghadapi pelbagai kehidupan. Dia tak ubahnya rumah yang berdiri di batu karang. Dia tidak kuatir dan gelisah menghadapi gempuran badai hujan dan gempuran gelombang kehidupan.

Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya,  sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. Yesus mengajar sebagai Orang yang berkuasa, karena memang Dia adalah Anak Allah. Dialah  Allah yang menjadi manusia, sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa. Maka sungguh wajarlah kalau dalam pengajaranNya, Yesus menampakkan kuasa tidak seperti manusia pada umumnya yang amat terikat aneka kecenderungan insani.

 

 

 

Collatio :

          Membanggakan dan mengidolakan seseorang adalah sebuah sikap yang wajar. Bukankah kita harus berani mengakui orang lain bila memang dia mempunyai kehebatan dan keunggulan dalam karyanya? Namun kiranya kita tidak boleh memaksakan sang idola kita kepada orang lain, dan bahkan bila perlu kita tidak menunjukkan idola kita kepada sesama kita. Mengapa? Pertama, setiap orang mempunyai idola yang satu berbeda dengan lainnya. Kedua,  ada seorang tokoh yang menjadi idola kita, tetapi justru sebaliknya tokoh itu menjadi kecaman bagi orang lain? Mengapa? Karena memang kita mempunyai sudut pandang yang berbeda. Atau dalam beberapa kali pertemuan dengan sang tokoh, kita disuguhi oleh kehebatan dan keagungan dia, sebaliknya ada beberapa orang yang menemukan aneka kelemahan dan bahkan keburukan sang tokoh dalam beberapa kali perjumpaan. Keempat, sang tokoh mempunyai aneka kharisma dan karunia yang mengagumkan, dan menarik hati banyak orang, tetapi serentak dia mempunyai beberapa sikap yang amat tidak terpuji yang hanya tampak dalam perilaku sehari-hari. Dia tidak ubahnya  seperti yang dikatakan dalam Injil hari ini, bahwasanya dia mampu bernubuat, mempunyai kuasa mengusir setan, dan mengadakan banyak mujizat, yang semuanya  dilakukan demi nama Tuhan.

          Aku mengenal seseorang. Aku mengakui kehebatan dan kekurangannya. Aku harus semakin mampu mengasihi sesama apa adanya, dan berdoa bagi mereka.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, mampukan kami agar tidak hanya mendengarkan dan merenungkan sabdaMu, tetapi yang terpenting kami boleh menjadi pelaku sabda, melaksanakan kehendakMu yang membawa keselamatan bagi kami. Amin

 

 

Contemplatio :

'Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening