Peringatan Hati Tersuci Perawan Maria

28 Juni 2014

2Tim 22: 26  +  Mzm 74  +  Mat  8: 5-17

 

 

 

Lectio :

Suatu hari ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:  "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita."  Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya."  Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.  Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."

Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.  Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,  sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."  Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia.  Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit.  Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."

 

 

Meditatio :

'Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita', pinta seorang perwira kepada Yesus, ketika Dia baru saja di Kapernaum. Berani sungguh perwira ini merundukkan diri di hadapan seorang Guru dari Nazaret. Dia seorang perwira nekat meminta bantuan pada seorang sipil dari Nazaret. Yesus berkata kepadanya: 'Aku akan datang menyembuhkannya'. Tanpa banyak komentar Yesus mengamini kemauan baik orang yang tidak dikenalNya itu. Mengapa Yesus tidak mempersoalkan orang itu? Kemungkinan besar dia bukan orang Yahudi, karena dia seorang tentara yang mempunyai kedudukan mapan dan terhormat dalam struktur kepemimpinan. Yesus sepertinya bangga terhadap orang yang datang ini.

'Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh', sahut perwira ini. Dia bukannya siap sedia menerimaNya, malah dia merunduk di hadapanNya dan mengatakan ketidakpantasannya menerima sang Guru agung. Mengapa?   'Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya', tegas sang perwira itu dengan rendah hati. Dia percaya kepada Yesus. Dia bangga kepadaNya. Dia percaya perkataanNya sungguh-sungguh hidup, maka  maka hambaku itu akan sembuh. Hebat sungguh perwira ini. Dia seorang perwira yang beriman.

Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel'. Yesus memuji bangga perwira itu. Seharusnya ada seorang Israel yang berkata-kata demikian, karena Israel adalah bangsa terpilih, bangsa yang kudus, pilihan Allah sendiri. Mengapa tidak ada seorang Israel pun yang mempunyai iman seperti perwira ini? Mengapa? Mengapa tidak ada seorang pejabat katolik yang mempunyai kepemimpinan seperti seorang Jokowi?  Bukankah seorang katolik mempunyai panggilan hidup sebagai seorang nabi? 

'Aku berkata kepadamu: banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,  sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi' tegur Yesus terhadap orang-orang Israel, yang tentunya teguran bagi kita semua yang menyatakan diri sebagai putera-puteri Bapa di surga. Sebutan tidaklah menjadi jaminan bagi setiap orang untuk menikmati keselamatan. Tepatlah Injil dua hari lalu, bahwasannya bukan orang yang berseru-seru Tuhan Tuhan, yang masuk Kerajaan Surga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa di surga (Mat 7: 21). 

Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: 'pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya'. Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya. Iman mendatangkan keselamatan. Sabda dan kehendakNya yang menyelamatkan umat manusia.

Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia.  Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit.  Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: 'Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita'. Yesus sepertinya tidak banyak mewartakan sabda Allah, melainkan hanya karya penyembuhan dan pengusiran kuasa kegelapan dari tengah-tengah umatNya. Apakah salah kalau banyak umat sekarang ini juga mengharapkan terjadinya mukjizat di tengah-tengah Gereja? Di mana letak pewartaan sabda dan kebenaran oleh Allah sendiri? Jika dituruti kemauan banyak orang, di manakan letak ekspresi kemampuan manusia sendiri dalam karya pelayanan? Bukankah daya nalar insani semkin hari semakin tumbuh dan berkembang? Bukankah karya penyembuhan Yesus tidak ditampakkan hanya melalui Gereja, melainkan juga banyak orang yang benar-benar mendalami bidang medis dan pengobatan? Bukankah Yesus memang mengundang banyak orang untuk ambil bagian dalam karya penyelamatan terhadap sesamanya? Bukankah Yesus dahulu harus bekerja seorang diri, karena kesombongan Israel terhadap diri sebagai bangsa terpilih?

 

 

 

Collatio :

'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel'. Penegasan Yesus ini benar-benar mempertajam kehendak Allah untuk selalu berani mengutamakan kebaikan dan kebenaran dalam hidup sehari-hari. Setiap orang harus berani menomersatukan sabda dan kehendak Tuhan, dan bukan kemauan diri sendiri yang memang tak jarang hanya untuk mencari kepuasan diri. Sabda Yesus juga tentuya tidak berlaku bagi Maria, sang bunda yang memang begitu setia mengikuti sang Putera dalam perjalanan hidunnya. Maria adalah seorang yang begitu mengutamakan kehendak Tuhan dalam dirinya. Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku, menurut perkataanMu.  Janganlah menghakimi seorang pun. Kasihilah semua orang dengan kemesraan hati keibuanku. Sebuah kutipan yang katanya disampaikan oleh Maria (Ruah, 28 Juni 2014). Entah dari mana mereka mengutipnya. Namun lepas dari semuanya itu, memang tak dapat disangkal keibuan hati Maria memang terasa tampak dalam diri setiap orang yang menghormati dia dalam mengikuti Kristus Tuhan.

Sungguh layak dan pantaslah bila bersikukuh bahwa Maria mempunyai hati yang tersuci dalam perjalanan hidupnya.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, kuduskanlah hati kami, agar kami boleh menikmati sukacita ilahi sebagaimana dialami oleh Maria, bunda kami, dan semoga kami pun semakin tumbuh dalam beriman kepadaMu. Berani berserah sebagaimana diteladankan perwira, dan terlebih oleh Maria, bunda kami.

Ya Maria, doakanlah kami.

 

 

Contemplatio :

'Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh'.

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening