Sabtu dalam Pekan Biasa X

14 Juni 2014


1Raj 19: 19-21  +  Mzm 16  +  Mat 5: 33-37


 

 

 

Lectio :

Bersabdalah Yesus: 'kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar;  janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun.  Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat'.

 

 

 

Meditatio:

'Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan; tetapi Aku berkata kepadamu: janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar;  janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun', tegas Yesus. Mengapa kita begitu mudah bersumpah?  Bersumpah  demi langit, apa kemampuan kita atas langit, yang sering menjadi gambaran kita, bahwa surga itu berada di atas sana itu? Langit adalah takhta Allah, karena memang Allah berkuasa  di surga mulia. Bersumpah demi bumi, adakah kita berkuasa mengatasi bumi dan segala isinya ini? Hanya Tuhan sang Pencipta yang berkuasa atasnya. Bumi adalah tumpuan kaki-Nya,sebab hanya Dialah sang Empunya kehidupan ini. Bersumpah demi Yerusalem, apa daya kita di Yerusalem, tempat para nabi dibunuh, tetapi di sanalah salib ditinggikan.  Yerusalem adalah kota Raja Besar,  sebab di kota itulah sang Raja Yahudi dimuliakan.  Janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Sebab memang tak seorang pun mampu memperpanjang dan menambah hidupnya; kalau tokh rambut berubah-ubah  warna, tak ubahnya daya kosmetika insani yang ditonjolkan.  

'Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak'. Kesetiaan seseorang terungkap dalam keserasian seseorang antara kata dan perbuatan. Barangsiapa masih menoleh ke belakang dalam mengikuti Aku tidak layak  menjadi muridKu. Elisa memberanikan diri mengikuti panggilan Elia untuk menjadi muridnya, walau dia masih menyempatkan diri untuk berpamitan dengan kedua orangtuanya (1Raj 19: 19-21). Apakah Elisa berkunjung guna mendapatkan peneguhan dari keluarganya, bukankah keluarga telah membuka mata hati setiap orang untuk mengenal kehidupan ini? Bagaimana dengan aneka janji dan sumpah yang memang harus dilakukan dalam acara pelantikan jabatan social? Bagaimana dengan mereka yang juga memberi kesaksian akan kebenaran, mereka pun memberanikan diri mengucapkan sumpah? bagiamana dengan mereka yang mengikralkan kaul-kaul kebiaraan? Inti perkawinan dalam Gereja Katolik pun adalah sebuah perjanjian antara seorang laki-laki dan perempuan yang ingin hidup seia sekata seumur hidup.

Kesetiaan setiap pribadi adalah yang kiranya mendapatkan perhatian dari Injil hari. Ketidak setiaan seseorang tidak ubahnya pembiaran diri seseorang dikuasai oleh kuasa kegelapan yang memang selalu ingin melawan kehendak Allah.  'Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat'.

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, teguhkanlah kami agar tetap setia dan jujur di hadapanMu dan sesama kami. Bantulah kami selalu menjadi orang-orang yang kedapatan setia sampai akhir hidup.

Nabi Elia, doakanlah kami, agar kami siap sedia menjadi pewarta-pewarta kebenaran Allah. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening