Selasa dalam Pekan Paskah VII

3 Juni 2014


Kis 20: 17-27  +  Mzm 68 +  Yoh 17: 1-11

 

 

 

Lectio :

Suatu hari Yesus menengadah ke langit dan berkata: "Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.  Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.  Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada. Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.  Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu".

 

 

 

Meditatio:

'Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau'. Inilah permintaan Yesus kepada Bapa di surga yang mengutusNya. Mengapa Yesus menyampaikan permohonanNya ini?  Sebab, 'Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya'.  Yesus telah menyelesaikan tugas perutusanNya, dan bukan kehendakNya sendiri yang dilakukanNya. 'Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada'. Puncak pemuliaan Anak Manusia memang sungguh-sungguh terjadi pada saat Dia bergantung di kayu salib. Pada saat itulah Dia menarik semua orang datang kepadaNya. Dia bergantung di salib, bukan karena Dia dikalahkan dan diikat oleh dunia, walau secara kasad mata memang benar, tetapi lebih dari itu, Dia secara sengaja merelakan diri disalibkan dan menjadi kurban kemarahan umat, karena memang dengan rela semuanya itu diterima guna menjadi kurban tebusan bagi umat manusia. Tidaklah sulit bagi Yesus untuk menghindari salib yang berat, biarlah cawan ini berlalu, tetapi bukan karena kehendakKu, melainkan kehendakMu,  tetapi semuanya itu tidak dilakukan karena ketaatan kepada Bapa di surga yang mengutusNya, yang menghendaki semua orang beroleh selamat.

'Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu', tegas Yesus. Inilah yang menjadi kebanggaan Yesus, bahwasannya para muridNya mau menuruti firman yang disampaikan kepada mereka. 'Percayalah kepada Allah Bapa, dan juga percayalah kepadaKu'  (Yoh 14: 1). Harapan Yesus yang jauh-jauh sebelumnya pernah disampaikan, kini semakin terwujud nyata bahwa mereka percaya dan berserah diri kepadaNya. 'Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku', tambah Yesus. Kepercayaan para murid menyenangkan hati Tuhan. Kemauan hati umatNya untuk melakukan segala kehendak Allah yang menyelamatkan benar-benar menyenangkan hati Tuhan; sebab itulah yang menyelamatkan mereka, dan bukannya segala karya agung yang dapat dilakukan oleh seseorang dalam perjalanan hidupnya. Panggilanku adalah cinta adalah semboyan Teresia Kanak-kanak Yesus yang mengungkapkan bahwa dia tidak mampu melakukan karya-karya besar, sebagaimana dilakukan para Kudus sebelumnya, tetapi dia berusaha melakukan segala sesuatu yang kecil dan sederhana dalam cinta. Mengamini sabda dan kehendak Tuhan, tidaklah cukup dengan bibir saja, melainkan terlebih-lebih dengan sikap dan perbuatan hidup.

'Aku berdoa untuk mereka, yakni para murid. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka'. Mengapa bagi mereka?  Karena  mereka 'mereka adalah milik-Mu'. Yesus tidak mendoakan dunia, sebab dunia selalu melawanNya, keinginan roh selalu bertentangan dengan keinginan daging (bdk. Gal 5). Namun tak dapat disangkal, setiap orang diundang dan diundang terus-menerus oleh Allah untuk menikmati kasih dan keselamatanNya.  Yesus mendoakan para murid, karena 'Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia'. Yesus tidak mau kehilangan satu pun dari Antara para muridNya, maka Dia selalu mendampingi dan menjaga mereka, sebagaimana dikatakan sendiri: 'Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat'  (Yoh 17: 15).

Ketidakberasalan umat yang terpilih dari dunia ini ditampakkan begitu radikalnya oleh Paulus dalam karya pelayanannya. Dia tidak segan-segan mempertaruhkan nyawanya dalam pewartaan Injil. 'Aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. Aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu' (Kis 20: 24.27).  Adakah keberanian kita seperti Paulus?

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, bantulah kami dengan doa-doaMu, sebab kami sering mengalami kesulitan dalam perjalanan hidup kami, bukan dari dunia luar, tetapi terlebih berkaitan dengan tanah jiwa kami yang sering mencari kepuasan diri. Bantulah kami, ya Yesus dengan sabdaMu, agar tanah jiwa kami ini menjadi tanah yang subur bagi benih-benih sabdaMu.

Santo Karolus Lwanga, doakanlah kami. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Aku berdoa untuk mereka, yakni para murid. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, karena memang mereka adalah milik-Mu'.

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening