Senin dalam Pekan Biasa X


9 Juni 2014

1Raj 17: 1-6  +  Mzm 121  +  Mat 5: 1-12

 

 

 

Lectio :

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:  "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.  Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.  Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.  Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

 

 

 

Meditatio:

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Bagaimanakah miskin di hadapan Allah itu? Orang miskin adalah orang yang tidak mempunyai apa-apa. Adakah perbedaan orang miskin di hadapan Allah dan di hadapan sesama? Orang miskin di antara kita adalah mereka yang membutuhkan uluran belaskasih tangan kita; tentunya demikian juga orang-orang yang miskin di hadapan Allah, yakni mereka yang membutuhkan uluran tangan kasih Allah. Berbahagialah mereka ini, karena akan menjadi orang-orang yang mempunyai Kerajaan Allah.

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berdukacita karena apa? Karena adanya malapetaka? Atau karena beratnya tantangan dan rintangan yang mereka hadapi? Kesulitan yang begitu besar tak jarang membuat orang bersedih dan berduka. 'Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia' (Yoh 16: 21). Habis gelap terbitlah terang.

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Mengapa mereka yang lemah lembut yang malahan mempunyai dunia ini, mengapa bukan mereka yang kuasa dan mempunyai harta, yang memang dapat mengatur dunia ini semau mereka?  Bukankah malahan orang yang lemah lembut diperdaya oleh mereka yang mempunyai kuasa?

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.  'Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan' (2Tes 3: 10). Penyataan ini mengajak orang untuk rajin bekerja dan tidak berpangku tangan atau mengulurkan tangan memohon bantuan. Mereka yang rajin bekerja saja layak mendapatkan upahnya, apalagi mereka yang menginginkan kebenaran, pasti akan mendapatkannya, terlebih bila itu kebenaran yang berasal dari Allah itu sendiri.

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Orang yang berbuat baik tentunya amat layak mendapatkan pujian dari sesama; segala yang diusahakan juga mendapatkan aneka keistimewaan. Mereka akan beroleh kemurahan, kemurahan dari siapa? Kalau dari sesama manusia, kiranya tidak bisa dipastikan, karena tak jarang susu dibalas dengan tuba. Tentunya kemurahan hati dari Tuhanlah yang menjadi penjamin hidupnya, bukankah Yesus sendiri menghendaki agar kita murah hati seperti Bapa di surga (Luk 6: 36)? Apakah pengalaman Elia (1Raj 17: 1-6) sedikit memberi gambaran kepada kita hari ini?

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Kiranya penyataan ini tidak dapat disangkal dan tak ada kemungkinan lain, karena hanya Allah yang kudus. Keserupaan dengan Allah yang kudus akan membuat setiap orang menikmati kehadiran Allah; memandang Allah dan bersatu dengan Allah sendiri.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Mengapa? Karena Yesus sendiri datang ke dunia membawa damai dan sukacita bagi dunia, bagi seluruh umat manusia. Mereka yang membawa damai berarti mereka bersikap dan bertindak seperti sang Anak Manusia. Yesus adalah Anak Allah yang membawa damai bagi orang-orang yang berkenan kepadaNya, maka demikian pula mereka yang berani membawa damai layak dan pantas menjadi anak-anak Allah, dan bukankah Dia adalah Anak Sulung kebangkitan, dan bukankah 'semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara' (Rom 8: 29).

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Sebuah penyataan yang menegaskaan resiko suatu pilihan. Memilih kebenaran berarti berpihak kepada sang Empunya kebenaran, yakni Allah sendiri. Perlawanan akan terjadi dan muncul dari dunia, yang memang bukan Allah. Mereka yang suka kebenaran adalah mereka yang bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia (Yoh 17: 16). Kesukaan mereka akan kebenaran membuat mereka menjadi milik Allah, dan mereka pun pasti memiliki Kerajaan Surga.

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.  Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu. Inilah kehendak Yesus yang amat pahit yang dirasakan oleh umatNya yang kudus. Mengikuti Dia berarti memanggul salib kehidupan ini.  'Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku' (Mat 16: 24). Apa yang memang kita cari dalam mengikuti Dia? Kita tidak akan mendapatkan kenyamanan hidup, tetapi yang pasti dan memberi jaminan, yakni keselamatan hidup.

 

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami agar senantiasa menyadari bahwa hidup kami selalu membutuhkan tangan kasihMu, sehingga kami tidak mengandalkan kekuatan diri dan harta kekayaan, yang akan membuat kami menjadi sombong dan jauh daripadaMu. Biasakanlah kami mensyukuri setiap peristiwa hidup kami, dan semakin berani mendekatkan diri kepadaMu. Amin

 

 

Contemplatio :

'Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga'.

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening