Senin dalam Pekan Biasa XII

23 Juni 2014

2Raj 17: 5-18  +  Mzm 60  +  Mat 7: 1-5

 

 

 

Lectio :

Bersabdalah Yesus kepada orang-orang yang mendengarkanNya: 'jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.  Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.  Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.  Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu'.

 

 

Meditatio :

'Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.  Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu'.  Apakah permintaan Yesus ini mengandaikan kita tidak boleh menasehati sesama dalam kebersamaan hidup? Tidak dimaksudkan seperti itu. 'Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.  Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu'. Menghakimi yang dimaksud Yesus adalah kebiasaan untuk mencari kesalahan orang lain, yang memang bertujuan untuk menjatuhkan orang lain. Kampanye hitam itulah yang dimaksudkan, atau pembunuhan karakter sebagaimana dikatakan banyak orang.

Tak dapat disangkal, orang-orang yang bertindak demikian adalah orang-orang yang sombong dan egois, yang merasa diri baik sembari meremehkan sesamanya. Malah tak jarang juga sebagai usaha menyembunyikan diri dalam kesalahan sesama, karena diri sendiri malu untuk mengakui kekurangannya dengan jujur, atau tak mau mengakui kekurangan dan kesalahan diri sendiri. Akhirnya minimal orang-orang yang gemar mencari kesalahan orang lain adalah mereka yang suka mencari kepuasan diri dan mengabaikan sesamanya; yang semuanya adalah suatu pejabaran dari sikap sendiri yang selalu melawan kemauan dan kehendak Tuhan. Kiranya obat yang paling mujarab dari sikap sikap seperti ini adalah keberanian mengakui keberadaan diri sendiri. Ada kelebihan ada kekurangan itulah diri saya, sembari berani mengakui keberadaan orang lain, yang pasti ada lebih baik dari saya, dan selalu berani membantu mereka yang berkekurangan dalam hidup.

Pertobatan adalah ukuran mendasar bagi setiap orang yang mau menikmati kasih Allah. Kisah pengalaman Israel dalam berhadapan Tuhan sebagaimana diceritakan dalam 2Raj 17 kiranya menjadi panutan setiap orang untuk berani bertobat kepadaNya.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami agar mempunyai kerendahan hati untuk dapat mengakui kelebihan orang lain dan menerima kekurangan mereka, sehingga kami tidak mudah untuk menghakimi sesama kami. Buatlah kami menjadi orang-orang yang mudah dan cepat bertobat, agar kami ini semakin  berani menikmati kasihMu, yang tak jarang hadir melalui diri sesama kami.  Amin

 

 

Contemplatio :

'Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu'.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening