Senin dalam Pekan Biasa XIII

30 Juni 2014

Am 2: 6-10  +  Mzm 50  +  Mat  8: 18-22

 

 

 

Lectio :

Suatu hari ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang.  Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi."  Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."  Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku."  Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka."

 

 

Meditatio :

'Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi'. Inilah permintaan seorang ahli Taurat. Seorang yang sudah berusia dan ahli dalam kitab suci hendak mengikuti Yesus. Apa maksud dan kemauan orang itu? Dia malah juga berani memanggil Yesus: Guru.  Yesus berkata kepadanya: 'serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya'.  Jawaban Yesus seperti sudah menjawabi kebutuhan orang itu. Jawaban Yesus menanggapi ketidakmurnian keinginan ahli Taurat itu. Sepertinya ahli Taurat ini hanya mencari kemapanan hidup. Yesus tidak menjawabi orang-orang yang mengikuti diriNya hanya untuk mendapatkan kemapanan hidup. Sebuah tempat atau bantal saja untuk menyadarkan kepala tidak dimilikiNya. Yesus sungguh hidup miskin. Bukankah malahan 'beberapa  perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka' (Luk 8: 3). Bukankah Dia memang sengaja datang dalam keadaan miskin agar kita kaya olehNya (2Kor 8: 9)? 

Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: 'Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku'. Baik juga maksud orang ini. Dia akan menyelesaikan urusan keluarga terlebih dahulu. Bukanlah dalam keluarga, seseorang  menemukan kehidupan yang sebenarnya?  Tetapi Yesus berkata kepadanya: 'ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.  Sebuah jawaban yang sangat keras, yang kemungkinan besar dimaksudkan agar kita tidak mudah menoleh ke belakang, bila memang hendak mengikuti sang Guru agung ini? (Luk 9: 62). Sebenarnya, mengapa dia harus minta ijin terlebih dahulu, mengapa dia tidak langsung menguburkan orangtuanya dan langsung kembali nanti untuk mengikuti sang Guru? Sungguh baiklah, kalau seseorang berpikir dan merenungkan segala sesuatu sebelum mengambil keputusan. 'Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?' (Luk 14: 28). Kalau dalam mengikuti Kristus, hal-hal kecil yang merintangi sebuah kemauan saja harus dibersikan, apalagi bila seseorang yang sudah mendapatkan banyak berkat Tuhan dengan beraninya melawan dan mengabaikan Tuhan yang hadir dalam diri  sesamanya. Kiranya bacaan Amos 2: 6-10 mengingatkan kita untuk semakin setia kepadaNya dan hanya melakukan kehendakNya (Mat 7: 22-23).

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus,  murnikanlah iman kepercayaan kami kepadaMu, agar dalam pengabdian dan pelayanan kami kepadaMu, hanya kehendakMulah yang kami laksanakan, dan bukannya kemauan diri sendiri, terlebih bila kami harus mengkonkritkannya dalam pergaulan dengan sesama. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening