Rabu dalam Pekan Biasa XVI

23 Juli 2014

Yer 1: 1-10  +  Mzm 71  +  Mat 13: 1-9

 

 

Lectio :

Pada waktu itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau.  Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan sebuah perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.  Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.  Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.  Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.  Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.  Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!".

 

 

Meditatio :

Pada waktu itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau.  Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Yesus terpaksa harus berdiri, bahkan harus naik perahu supaya tidak terhimpit banyak orang. Entah perahu siapa yang dipakai Yesus untuk mengajar itu.  Ia mengucapkan sebuah perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: 'adalah seorang penabur keluar untuk menabur.  Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis'. Sepertinya si penabur itu tidak memperhitungkan keberadaan tanah. Dia hanya menabur dan menabur.   'Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.  Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.  Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat'.

Penabur itu adalah Tuhan Allah sendiri yang menaburkan benih-benih keselamatan atau firmanNya yang kudus. Dia menaburkan sabda itu tanpa pilih kasih. Semua orang diberi kesempatan untuk mendapatkan taburan keselamatan itu. Taburan di pinggir jalan sepertinya menggambarkan seseorang yang tidak sempat meresapkan sabda itu dalam hatinya. Benih yang jatuh di tanah berbatu-batu menggambarkan seseorang yang tidak bersemangat dalam mendengarkan sabda. Dia memang tidak ada bekal kemauan untuk mendengarkan dan mendengarkan. Dan benih yang jatuh di tanah yang penuh semak berduri melukiskan kesibukan seseorang akan dunia ini benar-benar mendapatkan perhatian utama dibanding keinginan untuk berkenalan dengan Tuhan. Pengenalan akan Tuhan sungguh-sungguh dilemahkan sendiri oleh keinginan untuk menikmati dunia ini. Sebaliknya mereka yang mendengarkan sabda Tuhan dan menghayati pesan-pesanNya tak ubah benih yang tertaburkan di tanah subur dan menghasilkan banyak buah. Mereka yang menghayati sabda dan kehendak Tuhan benar-benar menikmati kasih karuniaNya yang melimpah.

Ketika Allah hendak mengutus Yeremia: 'sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa', dia berkomenar: 'ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda', tetapi Allah bersabda: 'janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN' (Yer 1). Melihat sikap Yeremia seperti itu, jenis tanah yang bagaimana pribadi Yeremia dalam menanggapi sabda dan kehendak Tuhan? Adakah tanah itu juga pada diri kita?

'Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!'.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, persiapkanlah hati kami agar menjadi tanah subur yang siap menerima taburan benih, yaitu sabda keselamatanMu, menghayati dan melaksanakannya, sehingga bertumbuh subur dan menghasilkan buah berlimpah. Amin

 

 

Contemplatio :

'Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!'.

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening