Sabtu dalam Pekan Biasa XIV

12 Juli 2014

Yes 6: 1-8  +  Mzm 93  +  Mat  10: 24-33

 

 

 

Lectio :

Suatu hari Yesus bersabda kepada para muridNya: 'seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.  Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.  Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.  Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.  Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya.  Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

 

 

Meditatio :

Ada beberapa pengajaran Yesus terhadap para muridNya. Pertama, 'seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya'.  Apakah pengajaran Yesus ini perlu dievaluasi?  Bukankah banyak anak yang kepandaiannya melebihi orangtuanya? Ada banyak murid sekarang ini lebih pandai dari gurunya? Kelak kemudian lebih pandai adalah suatu kebenaran yang tak dapat disangkal, tetapi selama seseorang menjadi murid, maka gurunya tentunya lebih pandai. Namun dalam kaitan dengan tantangan hidup yang dihadapi sang Guru, yakni Yesus Putera Allah memang jauh lebih besar daripada salib yang akan diterima para muridNya. Tantangan seperti anak domba berhadapan dengan kawanan serigala tidaklah seberat dengan tantangan yang dihadapi Yesus. 'Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya', tegas Yesus yang sungguh-sungguh mengingatkan para muridNya.  

Kedua, 'janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.  Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah'. Apakah penyataan Yesus ini hendak menegaskan bahwa perlawanan dan perlawanan memang akan dialami oleh para muridNya, tetapi kebenaran tak akan tersembunyi selama-lamanya. Dia akan mekar dan harum mewangi. Keharuman kebenaranlah yang akan memulihkan nama baik para muridNya dalam pewartaan. Mereka memang akan mengalami penderaan dan penganiayaan, tetapi mereka akan mendapatkan mahkota kemartiran yang menghantar mereka kepada kemuliaan kekal.  

Ketiga, 'janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.  Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya.  Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit'. Penegasan Yesus sepertinya memberi makna terdalam apa artinya mati dan tak bernyawa. Kehidupan sepertinya tidak berakhir dengan sebuah peristiwa kematian. Kematian seolah-olah hanya sebuah peristirahatan sejenak yang memang harus dilalui setiap orang dalam perjalanan hidupnya. Kematian, yang diakibatkan oleh peristiwa yang tidak mengenakkan, seperti dialami oleh para murid, sepertinya tidak dapat dihindari oleh seseorang, dia harus beristirahat dan tidur, tetapi dia tetap hidup di hadapan Tuhan Allah sang Empunya kehidupan, sebab di hadapanNya segalanya hidup. Pemahaman benar akan kematian akan membuat setiap orang berani memandanag bahwa kematian bukan peristiwa yang menakutkan.

Keempat, 'setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga, tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga'. Mengapa takut mengakui Tuhan di hadapan sesama kita? Perbedaan iman kepercayaan hendaknya tidak membuat setiap orang untuk takut bersaksi tentang kebenaran. Ketakutan yang diakibatkan karena adanya perlawanan, godaan dan bahkan penganiayaan, yakni resiko dari sebuah kesaksian iman dan kebenaran, sepertinya amat disayangkan. Kiranya Kristus sendiri yang menjadi jaminan keselamatan membuat orang untuk semakin berani hidup dalam kebenaran.

Melihat jaminan yang sungguh-sungguh menjanjikan itu amatlah baik dan tepatlah kalau kita berkata seperti Yesaya: 'inilah aku, utuslah aku' (6: 8). Kesediaan seperti Yesaya menunjukkan bahwa seseorang dapat memilih yang terbaik bagi hidupnya, bukan saja bagi esok di kemudian hari, tetapi juga sekarang ini.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, berikanlah kami kemampuan untuk berani mengatakan kebenaran di manapun kami berada, karena Engkau sendirilah jaminan keselamatan itu, yang akan membuat kami semakin berani hidup dalam kebenaran. Amin

 

 

Contemplatio :

'Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah'.

 

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening