Sabtu dalam Pekan Biasa XV

19 Juli 2014

Mik 2: 1-5  +  Mzm 10  +  Mat  12: 14-21

 

 

Lectio :

Pada waktu itu orang-orang Farisi  bersekongkol untuk membunuh Yesus.  Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya.  Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:  "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.  Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap."

 

 

Meditatio :

Pada waktu itu orang-orang Farisi  bersekongkol untuk membunuh Yesus.  Kenapa mereka bertindak seperti itu? Tentunya mereka jengkel dan marah terhadap sikap Yesus yang selalu berlawanan dengan ajaran hukum Taurat, bahkan tak jarang ajaran yang disampaikan sekarang ini sengaja menantang ajaran –ajaran dalam Perjanjian Lama yang sudah dihayati nenek moyang mereka secara turun temurun.  Yesus yang mengetahui maksud mereka  menyingkir dari sana. Namun, banyak orang mengikuti Yesus, dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Apakah mereka yang mengikutiNya itu adalah orang-orang yang sakit, atau minimal banyak di antara dari mereka adalah orang-orang sakit? Yesus memberikan yang terbaik bagi umatNya. Dia menjadikan segala-galanya baik adanya, tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.  Mengapa?

Yesus melarang diriNya diketahui dan dikenal banyak orang,  'supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:  'lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.  Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang; dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap'. Keheningan dan ketidak bersuaraan diri amatlah disadari oleh Yesus. Kalau Yohanes selalu mengatakan akulah suara yang berseru-seru di padang gurun, tidaklah demikian  dengan Yesus. Dia tidak membuka suara, walau pun Dia menyampaikan sabda dan kehendak Allah. Kelemahlembutan hati malah ditampakkan kepada mereka yang mau datang kepadaNya. Datanglah kepadaKu, belajarlah daripadaKu, sebab Aku rendah hati dan lemah lembut. Sepertinya Yesus sungguh-sungguh menghayati panggilan hidupNya sebagai Allah yang tersembunyi. Sebab Dia ada di antara umatNya, tetapi Dia tidak mau berteriak-teriak. Dia dicari oleh bangsa-bangsa, tetapi tetap hadir dalam keheningan kasihNya.

Terhadap orang-orang yang merancang kejahatan terhadap sesamanya saja Allah sudah mengingatkan mereka dengan teguran keras, sebagaimana diceritakan dalam Mikha 2: 1-5, apalagi tentunya orang-orang yang berusaha hendak membinasakan Dia. Mana mungkin mereka bisa membinasakan sang Empunya kehidupan. Namun kiranya Injil memberikan gambaran kepada kita semua tentang kebutuhan umat manusia akan Tuhan sang Pemberi keselamatan dengan mereka yang merasa diri mampu memenuhi kebutuhan dirinya.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, Engkau sumber pengharapan dan keselamatan umat manusia, mampukanlah kami untuk semakin berharap kepadaMu di saat kami menghadapi tantangan dan persoalan hidup yang berat sekalipun, dan kami yakin Engkau akan selalu menyertai dan akan memberikan yang terbaik bagi kami. Amin

 

 

Contemplatio :

'Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang'.

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening