Senin dalam Pekan Biasa XIV

7 Juli 2014

Hos 2: 13-19  +  Mzm 145  +  Mat  9: 32-38

 

 

 

Lectio :

Suatu hari sementara Yesus berbicara dengan para muridNya, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup."  Lalu Yesus pun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.

Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.  Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."  Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.  

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut,  berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia.  Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu.  Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

 

 

Meditatio :

Ada dua bagian Injil hari ini, pertama, kedatangan seorang kepala rumah ibadat, yang memohon kepada Yesus, untuk menghidupkan kembali anaknya perempuan yang telah meninggal. 'Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup'. Kepala rumah ibadat memohon kepada Yesus untuk datang ke rumahnya, tidaklah seperti perwira yang malahan melarang Yesus datang ke rumahnya, tetapi cukup dengan mengatakan sepatah kata saja (Mat 8). Apakah iman kepala rumah ibadat ini tidak sehebat sang perwira?

Yesus pun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut. Begitulah yang sering terjadi dalam peristiwa kematian, tak jarang banyak orang ribut sendiri, dan bukannya turut berkabung atas kematian seseorang anak manusia. 'Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur', kata Yesus kepada mereka semua, sebaliknya  mereka malah menertawakan Dia. Di depan mata manusia, memang tak dapat disangkal anak perempuan kepala rumah ibadat itu telah meninggal, tetapi bukankah di hadapan Tuhan segala hidup (Kel 3).  Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu.   

Kedua, dalam perjalanan ke rumah  kepala rumah ibadat, ada seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Dia berbuat seperti itu karena  dalam hatinya ia percaya: 'asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh'. Dan sungguh, apa yang dirindukannya itu mendapatkan jawaban Yesus, yang berpaling  kepadanya dan  berkata: 'teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau'. Kerinduan hati yang disampaikan kepada Tuhan mendapatkan jawaban, dan tak jarang kerinduan sekecil apapun mendapatkan jawaban daripadaNya, bahkan lebih besar daripada yang diharapkan. Itulah yang juga dialami oleh Zakheus. Iman mendatangkan berkat, karena memang Tuhan Allah itu mencintai dan menyelamatkan umatNya. Cinta yang menyelamatkan dan menghidupkan diungkapkan Tuhan sendiri dalam perjalanan Hosea yang menuntun umat Israel (bab 2).   

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, ajarilah agar kami semakin hari semakin percaya dan menaruh harapan hanya kepadaMu; sekecil apapun kerinduan kami pasti akan mendapatkan jawaban daripadaMu.  Amin

 

 

Contemplatio :

'Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau'.

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening