Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2014

Sir 10: 1-8  +  1Pet 2: 13-17  +  Mat 22: 15-21

 

 

Lectio :

Pada suatu hari pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.  Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.  Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"  Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?  Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.  Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"  Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

 

 

 

Meditatio :

Pada suatu hari pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.  Sebenarnya tidak ada soal berkenaan dengan Yesus pada saat itu, hanya memang orang-orang Farisi saja yang merasa tidak neyaman dengan kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka. Yesus menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi. Ada memang sampai sekarang orang-orang yang tidak merasa nyaman dengan kehadiran Tuhan Allah dalam hidupnya. Kehadiran Yesus bagaikan onak dalam hidupnya. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian  mendatangi Yesus. Mengapa mereka mengajak orang-orang Herodian? Orang-orang Herodian itu tak ubahnya orang-orang partai pendukung Herodes yang berkuasa pada waktu itu. Mengapa mereka diajak? Mereka mendatangi Yesus dan bertanya kepada-Nya: 'Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.  Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?'.

Mereka mengajak orang-orang Herodian karena pertanyaan mereka berkaitan dengan politik, berkaitan dengan kekuatan dan kekuasaan pemerintah. Pertanyaan mereka berkatian dengan kewajiban setiap warga negara untuk membayar pajak. Kaum Farisi memasukkan Yesus dalam ranah politik. Mereka secara sengaja memasukkan seorang Guru dalam ranah poltik guna mempermudah Dia masuk dalam jerat mereka dan membinasakanNya.  Yesus, yang mengetahui kejahatan hati mereka itu, Yesus yang bukanlah Orang bodoh dalam kehidupan ini, Yesus yang adalah sang Empunya kehidupan ini, berkata kepada mereka:  'mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?'. Kata-kata manis mereka bukanlah sebuah pujian dari umat yang mempunyai iman. Tak jarang, orang-orang jahat itu memang lebih pandai memuji dan mengagung-agungkan seseorang. Pujian mereka memang sebatas bibir, dan bukan keluar dari dalam hati. Itulah orang-orang munafik.  'Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu'.  Yesus langsung merujuk pada mata uang pada saat itu, karena memang uanglah yang menjadi tanda pembayaran pajak. Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.  Maka Ia bertanya kepada mereka: 'gambar dan tulisan siapakah ini?'. Sebuah pertanyaan yang amat tendensius. Bukankah Yesus sudah tahu setiap mata uang yang digunakan pada saat itu? 'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah', sahut Yesus setelah melihat gambar dan tulisan kaisar dalam keping dinar itu.

Yesus tetap meminta setiap orang untuk membayar pajak  sebagai kewajiban anggota masyarakat yang taat pada pimpinannya. Setiap orang juga tetap diminta untuk melakukan kewajiban agama yang diikutinya. Yesus mendamaikan mereka yang datang kepadaNya, yakni kaum Farisi dan kaum Herodian. Namun lebih dari itu, Yesus menyampaikan kepada semua orang pada waktu itu untuk menampilkan gambar dan tulisan Allah yang tampak dalam diri setiap ciptaanNya. Bukankah manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan citra Tuhan Allah? Dan bukankah Allah telah menorehkan firman dalam hati setiap orang? Bukankah Allah juga telah menaburkan benih-benih frman dalam hati umatNya?

Caranya? Menggunakan rahmat kehendak bebas dan akal budi yang diberikan kepada setiap orang, yang tentunya untuk tampil sebagai seorang pribadi bagi sesamanya. Petrus membahasakannya dalam konteks hari raya Kemerdekaan Bangsa dan Negara kita dengan berkata: 'hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!' (1Pet 2: 16-17). Seorang katolik harus benar-benar tampil sebagai seorang anak bangsa, Bangsa Indonesia, dan sebagai warga Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.

Merdeka!

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, dampingilah bangsa dan negara kami Indonesia untuk segera mewujudkan umatMu yang selalu mengusahakan kedamaian, keadilan dan kesejahteraan. Berkatilah para pemimpim bangsa dan negara kami. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah'.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening