Jumat dalam Pekan Biasa XIX, 15 Agustus 2014


Yeh 16: 59-63  +  Mzm  +  Mat 19: 3-12

 


 

Lectio :

Pada waktu itu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"  Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?  Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.  Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."  Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"  Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."  Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin."  Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.  Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."

 

 

Meditatio :

'Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?', tanya orang-orang Farisi untuk mencobai Yesus. Mereka mencobai, karena memang sepertinya mereka hanya berusaha menjebak, mempersalahkan dan menangkap Dia. Mereka mencobai, karena memang mereka pasti sudah tahu jawaban yang mereka lontarkan itu.  Jawab Yesus: 'tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?  Dan firman-Nya: sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.  Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia'.  Ada laki-laki dan ada perempuan karena memang itulah kehendak Allah sendiri. Mereka dibedakan satu sama lain, tetapi mereka dipersatukan dalam perkawinan. Perkawinan adalah realitas manusia, di mana laki-laki dan perempuan akan bersatu padu. Mereka meninggalkan keluarga untuk membentuk keluarga baru. Mereka meninggalkan orangtua, untuk menjadi orangtua bagi anak-anak mereka. Perkawinan adalah kehendak Allah. Perkawinan yang bukan atas nama  Allah tentunya tidak dapat ditolerir.

'Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?', tuntut mereka sebagai protes yang sekaligus merupakan bentuk pembenaran dan pembelaan diri. Bukankah laki-laki itu berkuasa atas perempuan? Bukankah perempuan itu sekedar tulang rusuk, bagian kecil dari tubuh manusia laki-laki? 'Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian', tegas Yesus. Perceraian bukanlah kemauan Allah, melainkan semata-mata kemauan manusia, yang tegar hati dan mau mencari menangnya sendiri. 'Tetapi Aku berkata kepadamu: barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah'. Pertama, sepertinya Yesus mengjinkan perceraian, bila sang perempuan kedapatan berzinah. Kalau laki-laki yang berzinah, apakah sang isteri diijinkan mengajukan perceraian terhadap suaminya? Adakah hak dan keberanian seorang perempuan menceraikan suaminya? Inilah dunia patriakal, di mana kaum laki-laki ingin selalu mencari menangnya sendiri. Apakah Yesus memang bermaksud demikian? Pemahaman Matius tentang pengajaran Yesus sepertinya berbeda dengan yang ditangkap oleh Markus dan Lukas. Coba perhatikan. Seseorang laki-laki yang menceraikan isterinya lalu kawin lagi dengan perempuan lain,dia itu berbuat zinah. Apakah penyataan Yesus ini membatasi kaum laki-laki untuk tidak mudah menceraikan isterinya? Bukankah Musa juga melarang setiap orang berbuat zinah (Perintah Allah ke 6)? Apakah boleh menceraikan isteri tetapi dia berjanji untuk tidak menikah lagi?

'Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin', komentar para murid, yang menampakkan betapa beratnya yang dihadapi kaum laki-laki yang berkeinginan. Boleh bercerai tetapi tidak boleh kawin lagi, berat kali hidup ini. Tidak menikah atau tidak berkeluarga malah dianggap hidup yang lebih baik oleh para murid. Kenapa? Apakah mereka putus asa? Bukankah hidup terasa indah bila dinikmati dalam keluarga? Namun pernyataan para murid itu malahan mendapatkan tanggapan positif dari Yesus. Yesus menegaskan:  'tidak semua orang dapat mengerti perkataan kalian itu, hanya mereka yang dikaruniai saja'. Mengapa? Karena perkawinan dilihat setiap orang sebagai realitas kodrati; ketidakmauan seseorang untuk menikah dimengerti sebagai pelanggaran kodrati.  'Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya'. Ada kekurangan fisik seseorang sehingga tidak mampu menikah. 'Ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain'. Seseorang dikebiri oleh sesamanya, entah karena aturan hidup bersama atau paksaan.  'Ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga'. Dengan rela hati seseorang tidak mau mengikatkan diri dengan seorang lawan jenisnya, karena ingin mengabdikan diri dalam pelayanan terhadap sesama, yang adalah kehadiran Allah sendiri. 'Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus' (1Kor 7: 32.34).

Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, dampingilah saudara dan saudari kami yang telah Engkau satukan  dalam hidup berkeluarga, agar mereka satu sama lain semakin dapat saling menghormati, saling mengisi dan bersatu padu dalam membina keluarga, serta setia dan taat kepadaMu. Amin

 

 

Contemplatio :

'Perkawinan yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia'.

 

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening