Jumat dalam Pekan Biasa XX, 22 Agustus 2014


Yeh 37: 1-14  +  Mzm 107  +  Mat 22: 34-40

 

 

Lectio :

Pada suatu hari ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka  dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:  "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"  Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.  Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi".

 

 

 

Meditatio :

Pada suatu hari ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka  dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia. Entah apa maksud dia menjumpai dan mencobai Yesus? Apa mereka merasa hebat dari kaum Saduki dan sekarang hendak menantang Guru dari Nazaret ini? Apakah mereka juga takut dibungkam oleh Yesus? 'Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?', tanya mereka pada Yesus. Sebagai orang-orang yang merasa diri tahu banyak tentang kitab suci, pasti mereka sudah tahu jawaban pertanyaan itu; sekali lagi mereka mau mencobai Yesus. Apakah mereka juga sudah siap sedia menanggapinya, kalau Yesus salah menerangkannya?  Jawab Yesus kepadanya: 'kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama'. Mencintai Tuhan itu harus sepenuh hati, dan tidak asal-asalan, sebagaimana dilambangkan orang yang tidak berpakaian pesta dalam pesta perkawinan kemarin. Ada hukum pertama, mengandaikan ada hukum kedua. Memang benar, 'hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Penegasan  bahwa  hukum  kedua itu sama dengan hukum pertama, Yesus hendak menyatakan bahwa hukum kedua ini tidak bisa diabaikan, bahkan ditiadakan. Hukum kedua itu ada bersama hukum pertama, dan harus dilakukan serentak.  'Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi'. Hukum cinta kasih adalah sumber dari segala aturan dalam hukum Taurat.

Bisakah hukum cinta kepada Tuhan dipisahkan dari cinta terhadap sesama? Dalam praktek bisa dibedakan. Ada orang yang rajin berdoa dan berdoa, tetapi tidak kenal dengan tetangganya. Ada pula yang orang yang mempunyai rasa social yang amat tinggi, tetapi dia tidak pernah pergi beribadat dan berdoa. Asal-asalan adalah sebuah prinsip hidup yang tidak dapat dikenakan dalam mengejar keselamatan. Asal berdoa tanpa perhatian terhadap sesama. Asal baik hati terhadap sesama tetapi tidak mengenal Tuhan. Dalam mengejar keselamatan setiap orang harus mempunyai selera tinggi, sebab dalam pengenalan akan Allah, seseorang harus berani menyadari kehadiran Tuhan dalam diri sesama. Dia bukanlah Allah yang bertakhta di surga; Dia adalah Allah yang menjadi manusia, sama seperti kita. Dia datang ke tengah-tengah umatNya, bukan minta untuk dilayani, melainkan datang untuk melayani. Memang hanya orang yang berselera tinggi dapat memahami hal ini; dan Tuhan sendiri menghendakinya.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, ajarilah kami yang telah lebih dahulu mengenal dan menikmati kasihMu ini untuk lebih peka dan memperhatikan sesama, karena dalam diri sesama kami Engkau sendiri hadir dan menyapa kami.

Santa Maria, ajarilah kami menemukan Yesus yang selalu hadir dalam diri sesama kami. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu; dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'.

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening