Kamis dalam Pekan Biasa XVIII, 7 Agustus 2014

Yer 31: 31-34  +  Mzm 51  +  Mat 16: 13-23

 

 

 

Lectio :

Suatu hari setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?"  Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi."  Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"  Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"  Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.  Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.  Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."

Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.  Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.  Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."  Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

 

 

 

Meditatio :

'Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?', tanya Yesus kepada para muridNya. 'Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis,  Elia, Yeremia, atau salah seorang dari para nabi', sahut para murid kepada Yesus. Banyak orang mengatakan seperti itu, karena mereka menemukan profil Yohanes Pembaptis, Elia atau Yeremia dalam diri Yesus; pokoknya Dia itu seorang Nabi, karena memang kehebatan hidup yang dimilikiNya. Dia itu Manusia Allah. Dia tidak seperti para ahli Taurat. Dia benar-benar Orang yang mengajar dengan penuh wibawa dan kuasa.

'Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?', tanya Yesus langsung kepada mereka. Apakah ada perbedaan pengenalan mereka dengan orang-orang lainnya. 'Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!', sahut Petrus. Hebat kali Petrus ini. Sejauh itukah pengenalan seorang Petrus, yang seringkali temperamental itu? 'Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga', tegas Yesus kepada Petrus. Yesus tahu benar siapakah Petrus. Apa yang dikatakan Petrus, bukanlah semata-mata kehebatannya dalam bergaul dengan diriNya, melainkan karena Allah sendiri telah menyatakanNya melalui Petrus. Yesus tahu benar, bahwa Bapa di surga telah menyampaikan semuanya itu kepada murid yang satu ini. Mengapa kepada Petrus? Mengapa bukan kepada Yakobus atau Yohanes Allah Bapa menyatakanNya?  'Aku pun berkata kepadamu: engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.  Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga'. Atas dasar kepercayaan Petrus, Yesus hendak mendirikan jemaatNya yang kudus, tidak ada kuasa apapun yang akan mengalahkannya; dan sebaliknya kepadanya diberikan kuasa pengampunan yang begitu besar. Rahmat pengampunan hendaknya dibagikan kepada setiap orang, sebagaimana Dia sendiri yang berkuasa itu Maha Pengampun, dan bukannya kuasa memerintah.  Janganlah seperti 'pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa yang memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka', melainkan layani mereka 'sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang' (Mat 20: 25.28).

Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.  Yesus benar-benar ingin menjadi Allah yang tersembunyi bagi umatNya. KemuliaanNya pun tidak ingin diketahui oleh banyak orang (Mat 17: 9). Yesus tidak keberatan dipanggil sebagai Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia atau salah seorang nabi. Yang penting kiranya kesadaran para muridNya bahwa Dia adalah Anak Allah yang hidup, yang memberikan nyawa menjadi tebusan bagi banyak orang.

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.  Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: 'Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau'. Petrus tidak mau semuanya itu terjadi pada Anak Allah yang hidup. Petrus belum mampu memahami bahwa sang Guru adalah Anak Allah yang memberikan nyawa menjadi tebusan bagi banyak orang. Allah tidak mungkin menderita; dan Allah memang tidak boleh menderita! 'Enyahlah Iblis', tegur Yesus kepada Petrus. Ketidak-mau-tahuan terhadap kemurahan hati Tuhan Allah adalah sikap iblis; demikian juga ketidak-mau-tahuan terhadap kehendak Allah, malah sebaliknya hanya memikirkan kemauan dan kesenangan diri sendiri. 'Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia'.

Taurat Tuhan memang telah ditanam dalam diri setiap orang (Yer 31); benih-benih firmanNya pun telah ditaburkan oleh Allah, tetapi tak dapat disangkal roh itu penurut dan daging itu lemah (Mrk 14: 38). Kecenderungan insani seringkali menguasai perjalanan hidup manusia. Membiasakan diri mendengarkan sabda Tuhan adalah mengkondisikan seseorang menguasai kecenderungan insani dengan kehendak Tuhan. Itulah yang dituliskan oleh santo Albertus Trapani yang menuliskan regula bagi para karmelit yang ingin mengutamakan kehendak Allah di atas segala-galanya. Peraturan hidup ditulisnya, bukan berdasarkan kemauan dan kehendak komunitas manusia, melainkan berdasarkan pada kehendak dan kemauan Allah sendiri.

 

 

Oratio :

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur karena penyataanMu sendiri sehingga kami dapat mengenali Engkau sebagai Penyelamat, dan biarlah kami juga dapat menjadi Gereja-gereja kecilMu di tengah-tengah lingkungan hidup kami.

Santo Albertus, doakanlah kami. Amin.

 

 

Contemplatio :

'Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!'.

 

 

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening